IDI Ungkap Penyebab Utama Kasus Corona Naik: Bukan Mudik, tapi Varian Delta

Tim detikcom - detikNews
Senin, 28 Jun 2021 12:29 WIB
Poster
Ilustrasi Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengungkapkan penyebab utama naiknya kasus Corona di Indonesia akhir-akhir ini. IDI menyebut penyebab kasus melonjak adalah masuknya virus Corona varian Delta ke Indonesia.

"Kalau (penyebabnya) mudik, mudik yang mana? tanggal 4-17 (Mei) sudah selesai masa inkubasi, nah setelah tanggal 17 saya nggak tahu, itu bisa dikaitkan, karena 4-17 (Mei) kalau dia mudik dia sudah nulari, dan saat itu 7 hari sudah keluar gejala. Jadi ini tidak mungkin, mungkin ada salah satunya iya. Tapi faktor pencetus utama adalah masuknya virus delta ke Indonesia," ujar Wakil Ketua Umum Pengurus IDI, Slamet Budiarto saat dihubungi, Senin (28/6/2021).

Menurut dia, virus Corona varian Delta ini parah sekali. Virus Corona biasa, kata dia, untuk bisa menulari manusia butuh waktu 3 bulan. Tapi varian Delta ini hanya butuh waktu 2-3 minggu untuk menyebarkan virus.

"Virus lama butuh berapa bulan? 3 bulan kan? Oktober, November, Desember, Januari akhir meledak kan? Butuh waktu 4 bulan. Ini (varian delta) butuh waktu berapa? 3 minggu," jelasnya.

"Jadi mudik itu bukan satu-satunya penyebab, penyebab utamanya adalah masuknya virus delta dari luar negeri, baik yang dibawa oleh orang asing ataupun dibawa orang Indonesia yang bekerja di sana. Artinya, tidak ketat (pengawasan keluar masuk)," sambungnya.

Meski begitu, Slamet menyebut bisa saja mudik ini menjadi salah satu penyebab naiknya kasus. Tapi itu mudik yang dilakukan setelah masa pelarangan, yakni setelah 17 Mei 2021.

"Kalau mau menyalahkan mudik, mungkin mudik setelah tanggal 17 (Mei), kan dilarang mudik 4-17, setelah tanggal 17 nggak disekat lagi, kalau mudik terkait lebaran, berarti yang pulang kampung itu, jadi pulang kampung setelah tanggal 17 mungkin itu bukan penyebab tapi memperberat. Tapi tidak bisa menyalahkan 100 persen, yang disalahkan 100 persen kenapa virus itu masuk Indonesia? Penjagaan orang keluar masuk Indonesia gimana itu?" tuturnya.

IDI Sebut 80 Persen Orang Terkena Varian Delta

Slamet mengatakan IDI menduga sebanyak 80 persen orang yang terkena virus Corona varian delta di Indonesia. Dia menyebut penularan varian delta itu sangat cepat.

"Penelitian LIPI itu 70-80 persen (orang terkena varian delta), kalau kita perkiraan IDI tuh 80 persen virus delta, karena sangat menular sekali, orang pakai masker tembus kok, masker satu lapis tembus, ini baru analisa kita ya, maka kita (anjurkan) 2 lapis," sebutnya.

Slamet pun menyarankan agar pemerintah melakukan PSBB ketat seperti awal pandemi Corona. Slamet menilai itu efektif menurunkan kasus.

"Saran saya tenaga kesehatan itu sekarang sudah tertular kebanyakan, sudah vaksin, tertular lagi sehingga jumlah nakes kita sudah mulai kewalahan, sudah mulai kurang, ini harus kita hentikan dari hulunya, untuk mengurangi jumlah pasien yang ke rumah sakit dilakukan e-mobilisasi jadi mobilisasinya dihentikan, seperti PSBB pada saat di awal pandemi, kalau itu nggak bisa dilakukan ya sudah 4 jam aja misal orang kerja 8 jam, terus hanya dibolehkan 4 jam makanya PSBB yang dimodifikasi jadi ekonomi tetap jalan tapi (kasus) itu turun, cuma lebih lama, cuma kalau dilakukan seperti PSBB di awal pandemi itu cepat sekali (kasus turun)," ungkapnya.

Menurut Slamet, sisa virus itu kalau tidak ada pergerakan berhenti, mati dengan sendirinya. Oleh karena itu pemerintah diminta membatasi pergerakan masyarakat.

Dia juga meminta pemerintah waspada akan bahaya virus Corona varian baru. Dia meminta pemerintah membatasi keluar-masuk orang asing masuk.

"Ini masuknya virus Delta ke Indonesia jadi pelajaran sangat berharga, di India sudah ada lagi varian delta plus, nah kalau nggak ketat lagi, kalau kita tak bisa kendalikan nanti meledak lagi. Jadi percuma kita melakukan PSBB kalau arus orang keluar-masuk tidak diatur juga dengan ketat," pungkasnya.

(zap/fjp)