Hari Kedua Pembatasan di Kemang, Pedagang Menjerit Turun Omzet

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 23:10 WIB
Pembatasan Mobilitas Masyarakat di Kemang, Jakarta Selatan
Pembatasan Mobilitas Masyarakat di Kemang, Jakarta Selatan (Rakha/detikcom)
Jakarta -

Pembatasan mobilitas masyarakat hari kedua diberlakukan di area Kemang Raya, Jakarta Selatan. Petugas melakukan pengecekan terhadap pengemudi kendaraan dan ojol yang hendak melintas.

Pantauan detikcom di lokasi, di persimpangan antara Jalan Kemang Raya, Jalan Kemang Utara dan Jalan Kemang 1, Jakarta selatan, pukul 21.00 WIB, Selasa (22/6/2021), barier dan cone oranye terpasang di setengah badan jalan di Jalan Kemang Raya.

Selain itu, terdapat papan pengumuman yang bertulisan, 'Pembatasan mobilitas pengguna jalan pada masa PPKM di ruas Jalan Kemang. Pukul 21.00 sampai dengan pukul 04.00'.

Sejumlah petugas dari kepolisian, Dishub, dan Satpol PP terlihat berjaga di sekitar lokasi. Setengah Jalan Kemang Raya masih dibuka untuk akses keluar dan masuk bagi para ojol dan penghuni.

Ojol dan para penghuni kawasan Kemang Raya pun masih diizinkan masuk. Ojol yang hendak melintas di Jalan Kemang Raya akan dilakukan pengecekan oleh petugas dan diminta menunjukkan bukti orderan.

Selain itu, para penghuni dilakukan pengecekan. Petugas meminta untuk diperlihatkan identitas KTP agar dapat masuk ke Jalan Kemang Raya.

Jerit Pedagang Dibalik Sunyinya Pembatasan di Kemang Raya

Pembatasan mobilitas masyarakat di area Kemang Raya, Jakarta Selatan ternyata berdampak bagi para pedagang di sekitar lokasi. Sunyinya kawasan ini membuat sejumlah pedagang menjerit karena turunnya omset.

Salah satunya Uju (35), seorang pedagang rokok dan kopi saset di Kemang menuturkan pendapatannya terjun bebas. Sebelum ada pembatasan di Kemang Raya, Uju bisa memperoleh Rp 400 ribu dalam satu malam, namun setelah adanya penutupan dirinya hanya mampu memperoleh Rp 50 ribu.

Pedagang ikut terpengaruh dengan pembatasan mobilitas masyarakat di Jakarta SelatanPedagang ikut terpengaruh dengan pembatasan mobilitas masyarakat di Jakarta Selatan. (Rakha/detikcom)

"Biasanya ojol iu suka di sini. Kalau ditutup kaya gini ya itu merosot drastis pasti. Saya itu kan bukanya biasanya malam, dari maghrib sampai jam 4. Biasanya bisa 400 ribu, sekarang 50 ribu," ujar Uju saat ditemui detikcom di Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, Selasa (22/6/2021).

"Alhamdulillah lah, kita nggak minta ditutup, karena sepi juga siapa yang mau datang, jadi ya udah saya buka. Ga ada yang beli, paling cuma datang satu dua orang beli rokok sama kopi udah," ujar Uju.

Dia berharap pembatasan di Jalan Kemang Raya tidak berlangsung lama.

"Ya semoga ga lama-lama, karena kalau lama pedagang kaya kita kan berdampak. Terlebih kan saya bukanya malam, kalau ditutup saya juga dapat penghasilan dari sini," tuturnya.

Pedagang lainnya, Nasir (40) seorang pedagang bakso di Jalan Kemang Raya turut mengeluhkan pendapatan menurun sejak pemberlakuan pembatasan mobilitas di Jalan Kemang Raya. Dia berharap pembatasan ini tak berlangsung lama.

"Turun pasti. Karena kan biasanya sampai malam masih ada yang beli. Kalau biasanya bisa dapat 200 ribu sekarang cuma 70 ribu itu juga udah syukur," kata Nasir.

"Sepi. Jangan lama-lama. Saya ga ditutup aja udah susah. Kalau ditutup apalagi. Mau gimana juga bingung tiap hari jualan di sini sampai malam," lanjutnyar.

(maa/maa)