Pakar Nilai PPKM DKI Tak Efektif, Desak Lockdown dan Tingkatkan 3T

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 22 Jun 2021 07:14 WIB
Sebanyak 80 warga yang bermukim di RT 03 RW 03 Cilangkap, Jakarta Timur, terkonfirmasi positif COVID-19. Gang jalan di permukiman tersebut di-lockdown sementara.
Ilustrasi (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Pakar epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di DKI Jakarta tidak efektif menurunkan penyebaran virus Corona. Dicky menyarankan agar lockdown hingga peningkatan tracing, testing dan treatment (3T).

"Yang jelas kalau PPKM itu dari respons kita sejauh ini dan terlihat. Sebenarnya, nyatanya saat ini dengan meningkatnya kasus jelas PPKM itu nggak signifikan efektif. Dan bicara efektivitas dari satu intervensi ya, lihat salah satunya bagaimana dampaknya dalam menurunkan angka reproduksi, signifikan nggak menurun? Itu secara saintis-nya," kata Dicky kepada wartawan, Senin (21/6/2021).

Dicky kemudian menyoroti positivity rate Corona yang tinggi. Dia menekankan bahwa penanganan pandemi Corona DKI perlu respons yang besar.

"Secara analisa awal sudah bisa memprediksi kuat bahwa ini nggak bisa, karena masalah kita ini sudah di mana-mana besar. (COVID-19) jadi tersebar, kemudian besar, dengan tes positivity rate yang tinggi sejauh ini dengan juga level community transmission kita. Itu dari 2 itu saja ini sudah menunjukkan bahwa kita nggak bisa kalau resposnya seperti ini, karena masalahnya sudah besar, responsnya juga harus besar. Jadi sesuai besaran masalah ini direspons dengan respons yang juga besar," papar dia.

"Makanya kalau kecil responsnya, itu kan kecil ditambah faktanya saja dengan PPKM ini tidak ada peningkatan signifikan, 3T kita nggak ada, cenderung stabil rendah ya dan faktanya ini membeludak seperti ini. Kasus ini juga adalah bukti ini nggak berhasil," lanjutnya.

Diki kemudian menyarankan agar lockdown dilakukan. Namun testing hingga vaksinasi juga perlu ditingkatkan.

"Nah hal seperti itu memperlihatkan 3 ini harus dikombinasikan dan harus ada yang diperkuat untuk menekan ini. Dan setidaknya kesamaan dari semua 3T. Kalau itu lemah, nggak bisa kita. Jadi lockdown itu bukan satu-satunya. Jadi kesimpulannya seperti itu, tapi harus ada pembatasannya dan diikuti dengan 3T yang juga maksimal," tutur Dicky.

Dicky menyebut kebijakan itu tak hanya diterapkan di Jakarta. Sebab, menurutnya, Pulau Jawa harus menjadi prioritas penanganan.

"Kalau bicara masalah kasus ini Indonesia semuanya, kalau Jakarta terlihat, terkesan seperti yang paling serius karena testing Jakarta paling bagus, jauh dari daerah lain. Tapi daerah lain bukan berarti lebih baik dari Jakarta, bahkan lebih serius, bahkan di Jawa ini wilayah populasi besar jauh lebih serius dari Jakarta. Di tengah minimnya testing tracing itu," jelasnya.

Oleh sebab itu, menurut Dicky, pemerintah harus merespons lonjakan kasus Corona yang terjadi saat ini. Dicky menyebut saat ini kasus Corona sedang menuju puncak penularan.

"Kalau bicara merespons, mencegah beban lebih besar lagi di fasilitas kesehatan, atau pembatasan namanya lockdown, PSBB atau apapun itu, karena ini sudah dimana-mana ya nggak bisa cuma di Jakarta saja, misalnya se-Jawa, atau di kota raya se-Jawa, seminimalnya itu. Dan itu pun bukan berarti di luar kota itu bebas, harus ada pembatasan, durasinya minimal 2 minggu, kalau bisa 2 kali masa inkubasi atau sebulan," jelasnya.

Simak video 'Corona Mengganas, Wisma Atlet Dikhawatirkan Kolaps dalam Sepekan':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2