Jumlah Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso Melonjak!

Antara News - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 09:26 WIB
Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril
Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso Mohammad Syahril (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta -

Pihak Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakarta Utara mencatat jumlah pasien COVID-19 yang menjalani rawat inap mengalami lonjakan tinggi. Kenaikan ini terjadi setelah libur Lebaran 2021.

Dilansir dari Antara, Jumat (18/6/2021), Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, mengatakan peningkatan jumlah pasien COVID-19 yang menjalani perawatan terjadi mulai Mei. Padahal empat bulan sebelumnya mengalami penurunan.

"Jadi betul apa yang disampaikan oleh pemerintah kalau terjadi lonjakan. Kami pun saat ini merasakan adanya lonjakan itu. Di awal tahun, Januari, Februari, Maret, April ini, (keterisian ruangan) kami sudah turun sebetulnya. Mulai Mei sampai sekarang naik lagi," kata Syahril saat ditemui Antara di Jakarta, Kamis (18/6).

Syahril mengungkapkan peningkatan jumlah kasus COVID-19 mulai Mei 2021 seperti kejadian virus itu merebak pada awal dan akhir 2020.

Sejak RSPI mulai merawat pasien COVID-19 pertama kali pada 2 Maret 2020, ketika itu dua pasien dengan 11 tempat tidur yang tersedia.

Secara bertahap, fasilitas perawatan pasien COVID-19 di rumah sakit itu terus bertambah hingga sekarang sudah ada 123 tempat tidur, sebanyak 22 tempat tidur di antaranya ruangan Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit/ICU).

"RSPI ini kan rumah sakit yang merawat (pasien COVID-19) rujukan ya. Jadi (khusus) kasus (COVID-19) yang sedang dan berat," ujar Syahril.

Kondisi saat ini, dari 22 tempat tidur di ICU, sudah terisi 95 persen atau hanya tinggal satu tempat yang tersisa. Sedangkan 100 tempat tidur di ruang inap biasa mencapai 88 persen tingkat keterisiannya.

Jika ditotal, menurut Syahril, BOR di RSPI sekitar 93 persen, sehingga cukup waspada dan hati-hati terhadap tingkat kebutuhan maupun hunian ruangan perawatan pasien COVID-19.

Guna mengantisipasi hal itu, Syahril mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, masyarakat diminta menyadari adanya lonjakan jumlah kasus COVID-19.

"Masyarakat dengan adanya kondisi seperti ini menjadi disiplin dengan protokol kesehatan (mulai) menjaga jarak, (menggunakan) masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan sebagainya tadi. Jadi betul-betul disiplin supaya jangan sampai menambah kasus lagi," ujar Syahril.

Kedua, untuk pemerintah, Syahril menekankan tracing dengan menindaklanjuti kasus aktif untuk mencari dan memeriksa tes usap terhadap masyarakat yang kontak erat dengan penderita dirawat di rumah sakit.

Ketiga, dengan angka penularan yang melonjak, penting menghindari kepanikan pernah terjadi pada awal masa pandemi.

Syahril mengungkapkan, sebagai langkah antisipasi, perlu dibuat sistem rujukan yang presisi, seperti kategori berat atau tanpa gejala cukup isolasi mandiri.

Ketika pasien mengalami gejala ringan hingga sedang cukup menjalani perawatan di puskesmas atau rumah sakit umum daerah setempat.

"Nah, tentu saja kewaspadaan dari puskesmas, rumah sakit umum daerah, rumah sakit darurat, termasuk kami (RSPI), sistem itu harus dimantapkan melalui SPGDT atau Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu," tutur Syahril.

Sedangkan untuk pasien bergejala berat, harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit rujukan.

Sistem aturan perawatan itu menjadikan rumah sakit biasa akan berkomunikasi dengan rumah sakit rujukan saat akan memindahkan pasien yang mengalami gejala berat.

Simak video 'Grafik Lonjakan Kasus Corona di Jakarta Per 6-17 Juni':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/fjp)