Viral Pasutri Lansia di Sumsel Tinggal di Kandang Ayam Sejak 7 Tahun Lalu

Prima Syahbana - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 23:32 WIB
Kandang ayam tempat tinggal Pasutri Lansia di Sumsel
Kandang ayam tempat tinggal Pasutri Lansia di Sumsel (Prima/detikcom)
Palembang -

Sepasang suami istri lanjut usia (pasutri lansia), di Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel), viral di media sosial lantaran tinggal di kandang ayam. Keduanya menarik simpati warganet lantaran tidak memiliki tempat tinggal yang layak sejak 7 tahun lalu.

Informasi yang dihimpun detikcom, pasutri lansia, Sulaiman (65) dan Nurhayati (60), itu tinggal di rumah tak layak huni yang beralamat di Desa Teluk Kecapi, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir. Keduanya merupakan warga miskin yang terpaksa tinggal di kandang ayam atau rumah tak permanen yang dinding dan atapnya terbuat dari daun nipah semenjak keduanya menikah.

"Kami menikah sudah tujuh tahun. Sejak itulah kami tinggal disini. Pondok ini luasnya sekitar 12 meter," kata Sulaiman ketika ditemui wartawan di kediamannya, Senin (14/6/2021).

Bahkan, saat wartawan mencoba masuk ke kediaman keduanya yang berada 1,5 meter dari atas tanah itu, tercium bau yang tidak sedap. Bau tersebut mengarah ke beberapa karung yang isi di dalamnya hewan peliharaan, yakni ayam.

"Kami tinggal sama ayam. Karena tidak ada lagi tempat jadi terpaksa. Kami tidur, makan dan masak di sini," tutur Sulaiman.

Selain tinggal bersama ayam peliharaan di tanah yang dipinjamkan warga itu, mirisnya di dalam rumah tersebut terlihat beberapa perlengkapan rumah tangga membaur menjadi satu.

"Kami tak ada pilihan lain. Jujur saya tak mampu membangun rumah. Ini saja kami numpang di atas tanah milik warga untuk mendirikan rumah sekaligus kandang ayam ini," ujarnya.

Apalagi ketika hujan mengguyur, bukan hanya bocor, melainkan keduanya juga harus rela basah kuyup diterpa air karena atap rumah yang hanya terbuat dari daun nipah.

"Kalau hujan, saya dan istri kebasahan karena air netes semua. Bukan lagi bocor, tapi benar-benar air jatuh ke kami. Nggak apa-apalah itung-itung mandi," ungkap.

Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sulaiman dan istrinya bekerja dengan menawarkan jasa merawat kebun dan sawah milik orang lain dengan upah yang hanya cukup makan 2-3 kali sehari.

"Alhamdulillah, kalau ada rezekinya kadang dapat Rp 40 ribu cukup untuk makan, kadang tidak sampai segitu dan tidak bisa makan. Kami sudah biasa," jelas Sulaiman.

(maa/maa)