Round-Up

Akhir Kisah 15 Tahun Sengkarut GKI Yasmin

Tim detikcom - detikNews
Senin, 14 Jun 2021 07:45 WIB

Ungkapan Syukur Ketua MUI Bogor

Ketua MUI Kota Bogor Mustofa Abdullah bersyukur atas solusi yang telah disepakati untuk menyelesaikan polemik GKI Yasmin yang telah berlangsung selama 15 tahun. Mustofa menyebut Bogor merupakan kota spiritual.

"Saya sangat bersyukur karena aslinya Bogor itu adalah kota spiritual, kota rohani, kota yang didirikan oleh para kekasih Allah para kekasih Tuhan, entah berapa ratus tahun yang lalu, kalau kemudian ada riak dan gangguan saya yakin itu, bukan DNA-nya orang Bogor," kata Mustofa.

Mustofa mengaku sangat berbahagia. Dia mengajak semua pihak untuk saling berlomba dalam kebaikan.

"Saya sangat berbahagia sekali pada siang ini, dua dzulqodah bertepatan dengan 13 Juni 2021 menyembah sang pencipta adalah hak siapa pun, dan sang pencipta apapun kita sebut namanya, telah menciptakan jalan-jalan menuju diri-nya, mari kita saling bekerja sama, untuk saling berlomba dalam kebaikan, kalau dalam bahasa Islamnya fastabiqul khairat," ujar Mustofa.

FKUB Bogor Ungkap Awal Mula Beri Rekomendasi

FKUB Kota Bogor mengungkap cerita di balik solusi penyelesaian sengkarut 15 tahun GKI Yasmin. FKUB Kota Bogor memberikan rekomendasi kepada Pemkot Bogor bahwa GKI Yasmin dibangun di Kelurahan Cilendek.

"Kami telah menyampaikan rekomendasi kepada Walkot Bogor bahwa solusi terhadap pembangunan GKI di Jalan Abdullah bin Nuh sampai Taman Yasmin yaitu di Kelurahan Cilendek itu mendapatkan rekomendasi dari FKUB Bogor," kata Ketua FKUB Kota Bogor, Hasbullah.

Hasbullah mengatakan awalnya muncul permohonan klarifikasi dari 90 jemaat pengguna rumah ibadah dan 60 pendukung pendirian rumah ibadah dari warga sekitar. Berdasarkan aturan yang ada, FKUB harus memberikan rekomendasi atau hasil atas verifikasi yang telah dilakukan.

Berdasarkan data yang didapat FKUB, Hasbullah mengatakan ada 144 jemaat yang akan menempati rumah ibadah tersebut. Itu dianggap telah memenuhi syarat dari batas minimal 90 jemaat.

"Kemudian dari sisi pendukung masyarakat untuk pendirian rumah ibadah, kami mendapati permohonan tersebut dilengkapi oleh 73 masyarakat yang mendukung pendirian rumah ibadah tersebut yang disyaratkan hanya 60," ujar Hasbullah.

Atas hal itu, Hasbullah bersama tim FKUB Bogor melakukan verifikasi lapangan. Selain itu, FKUB juga mengkonfirmasi data itu ke RW setempat.

"Mengkroscek ke RW setempat apakah memang tandatangan serta verifikasi berkas KTP, masyarakat yang mendukung, masyarakat yang menjadi bagian dari pada rumah ibadah tersebut yang menggunakan, sudah dikroscek oleh RW setempat. Kemudian yang kedua kami juga mengkroscek kepada lurah, kemudian yang ketiga ditandatangani oleh camat, maka kami juga mengkroscek kepada camat dan stakeholder yang ada. Setelah itu kami kami lakukan komunikasi dengan tokoh agama sekitar untuk menjaga toleransi dan kerukunan di sekitar pembangunan rumah ibadah" ujar Hasbullah.


(rfs/mae)