Polisi Sebut Wabup Sangihe Helmud Hontong Meninggal karena Sakit Jantung

Hermawan Mappiwali - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 16:38 WIB
Jenazah Wabup Helmut Hontong di ruangan VVIP Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado.
Jenazah Wabup Sangihe Helmud Hontong saat di ruangan VVIP Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado. Kamis (10/6/2021). (Trisno/detikcom)
Makassar -

Polisi menyebut Wakil Bupati (Wabup) Sangihe Helmud Hontong meninggal akibat penyakit jantung. Hal tersebut didasarkan analisis dari tim medis di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

"Diperkirakan meninggal karena jantung, karena penyakit jantung," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes E Zulpan kepada detikcom, Sabtu (12/6/2021).

Zulpan mengatakan tim medis bandara memang langsung memeriksa Helmud saat pesawat mendarat di Makassar. Kemudian tidak ada tanda-tanda kekerasan ataupun hal yang mencurigakan.

"Kan ditanya kemarin, jadi dia dinyatakan meninggal itu di udara. Kemudian pesawat itu kan dari Denpasar ke Makassar rutenya kan. Begitu pesawat itu landing di Makassar, itu diperiksa tim medis dari bandara didampingi dengan kepolisian," kata Zulpan.

Namun Zulpan tak memberikan penjelasan lebih lanjut alasan tim medis menyimpulkan korban meninggal akibat serangan jantung.

"Itu tanya saja dokter itu, jangan saya lagi. Tanya dokter bandara. Tim medis (yang memeriksa korban), kepolisian hanya mendampingi saja," katanya.

Kemudian dugaan penyebab kematian korban yang janggal, Zulpan mengatakan hal tersebut belum dapat dibuktikan lebih lanjut.

"Kalau dikaitkan dengan sebelum dia berangkat ke Jakarta dia menolak proyek tambang, saya rasa itu ditanyakannya ke Polda Sulut. Saya tidak tahu masalah itu. Saya hanya memastikan sebagai Kabid Humas Polda Sulsel bahwa begitu mendarat di Makassar, itu dinyatakan meninggal. Tidak ada tanda-tanda kekerasan," katanya.

Selain itu, pihak kepolisian tak bisa melakukan langkah autopsi untuk memastikan penyebab kematian korban. Pasalnya, pihak keluarga menolak.

"Kemudian dihubungilah keluarganya di Sulawesi Utara, kemudian menerima pernyataan itu, berita itu, sehingga meminta jenazah dikirim ke kampung halaman," kata Zulpan.

"Kemudian keluarga menerima musibah yang dialami, serangan jantung itu. Dan tidak meminta kepolisian kepolisian melakukan autopsi, langsung melakukan prosesi di pemakaman," imbuhnya.

Kematian Wabup Sangihe Disebut Janggal

Seperti diketahui, kematian korban disebut janggal. Seperti diungkap ajudan Helmud, Harmen Rivaldi Kontu, bahwa sebelum korban meninggal, Helmud sempat memberitahukan kepadanya bahwa sudah merasa pusing. Pada saat itu, dia diminta menggosokkan minyak kayu putih di bagian belakang dan leher.

Setelah lehernya digosok dengan minyak kayu putih, Helmud tidak lagi merespons. Bahkan Harmen mengatakan ada darah yang keluar dari mulut dan hidung Helmud.

"Sekitar 5 menit itu saya lihat Bapak langsung tersandar. Saya panggil dan kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons lagi. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap Bapak tidak ada respons. Kemudian keluar darah lewat mulut. Tak lama kemudian darah keluar dari hidung," kata Harmen ketika dimintai konfirmasi detikcom di Pelabuhan Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (9/6).

Harmen mengatakan, setelah keluar darah, ada seorang pramugari yang meminta bantuan. Menurut dia, pramugari tersebut menanyakan apakah ada dokter atau tenaga medis yang ikut dalam penerbangan itu. Kata Harmen, karena ada dokter, Wabup Helmud langsung dibawa ke bagian belakang untuk mendapatkan penanganan medis.

"Pas itu pramugari langsung meminta tolong jika ada dokter atau paramedis yang ikut dalam penerbangan ini. Jadi langsung diarahkan ke bagian belakang pesawat. Saat itu nadi Bapak dipompa supaya ada pernapasan, tapi Bapak memang ndak ada respons. Terus mereka mengecek nadi Bapak, kan mau tahu detak jantung, tapi mulai melambat," jelasnya.

Harmen saat itu duduk di samping Helmud. Tindakan terakhir yang diambil dokter di dalam pesawat adalah diberi suntikan guna memacu jantungnya. Namun nadinya tak ditemukan, akhirnya pemberian suntikan dibatalkan.

"Jadi tindakan terakhir dari dokter itu mau suntik adrenalin untuk pacu jantung. Cuma pas cari nadi Bapak, karena mungkin Bapak sudah kolaps, sudah tak dapat nadi Bapak. Cari beberapa tempat tidak dapat, jadi mereka batalkan itu suntik. Jadi keterangan dokter di pesawat cuma itu yang bisa dibuat, kemudian alat-alat tidak ada yang memadai sambil menunggu turun di Makassar masih 30 menit lagi untuk landing," ujar dia.

Tak lama setelah landing, Wabup Helmud langsung ditangani pihak dokter dari Bandara Hasanuddin, Makassar. Menurutnya, setelah memeriksa, dokter kemudian menjelaskan Wabup Helmud telah meninggal dunia.

Polri Siap Usut Kematian Wabup Sangihe

Komnas HAM dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mendorong kepolisian untuk menyelidiki kematian Helmud Hontong yang dinilai janggal. Kapolda Sulut Irjen Nana Sudjana mengklaim pihaknya telah membentuk tim untuk mengusut dugaan tersebut.

"Kami sudah menyusun tim khusus penyelidikan terkait kasus ini," ujar Irjen Nana saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (12/6).

Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan Polri juga menunggu respons dari keluarga.

"Kita tanyakan dulu ke Sulut, bagaimana keluarganya," kata Argo saat dihubungi terpisah.

Sebelumnya, Koordinator Nasional Jatam, Merah Johansyah Ismail, mendorong kepolisian menyelidiki kematian Helmud Hontong. Dia menilai kematian yang mendadak Helmud ini mengagetkan dan misterius.

"Ini mengagetkan. Kedua, misterius dan agak janggal kematiannya. Kenapa seperti itu? Karena dia ini kan menjadi sorotan, high profile karena dia ini kepala daerah yang menolak tambang juga. Bahkan dia juga mengirim surat ke ESDM. Suratnya juga sudah beredar," kata Merah saat dihubungi, Jumat (11/6).

"Ini janggal karena dia sehat-sehat saja, tapi tiba-tiba mendadak kolaps," lanjutnya.

Tonton Video: Ramainya Warga Sambut Jenazah Wabup Sangihe Helmut

[Gambas:Video 20detik]



(hmw/jbr)