Waspada! RS di 9 Daerah Ini Makin Penuh Gegara Lonjakan Corona

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 09 Jun 2021 16:02 WIB
Jubir Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Wiku Adisasmito (Foto: dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Satgas Penanganan COVID-19 menyampaikan level alarm kabupaten/kota yang mengalami kenaikan kasus lebih dari 100 persen dan keterisian tempat isolasi rumah sakit mencapai di atas 70 persen. Satgas meminta kepala daerah di kabupaten/kota tersebut segera mengendalikan penularan COVID-19 di wilayahnya.

"Level alarm wilayah-wilayah di Indonesia berdasarkan persen kenaikan kasus 3 minggu setelah Idul Fitri dan persen keterisian tempat tidur atau BOR isolasi per 8 Juni. Perlu dipahami bahwa kenaikan kasus dan BOR menjadi indikator penting dalam melihat kegawatan situasi COVID-19 di suatu wilayah. Karena apabila kasus naik tapi tempat tidur tidak tersedia, keadaan dapat semakin memburuk. Begitupun sebaliknya," kata jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB Indonesia, Rabu (9/6/2021).

Satgas COVID-19 membagi indikatornya menjadi empat kondisi:

1. Kotak merah di kanan atas, yaitu apabila kenaikan kasus lebih dari 100 persen dan BOR lebih 70 persen.
2. Kotak cokelat di kanan bawah, yaitu apabila kenaikan kasusnya lebih dari 100 persen dan BOR-nya masih kurang di bawah 70 persen.
3. Kotak oranye di kiri atas apabila kenaikan kasus kurang dari 100 persen dan BOR-nya lebih dari 70 persen.
4. Kotak kuning di kiri bawah apabila kenaikan kasusnya kurang dari 100 persen dan BOR-nya kurang dari 70 persen.

Level alarm kabupaten/kota berdasarkan kenaikan kasus dan keterisian RSLevel alarm kabupaten/kota berdasarkan kenaikan kasus dan keterisian RS Foto: dok. screenshot video BNPB

Dari empat kondisi tersebut, Wiku mengatakan kondisi yang mengkhawatirkan apabila kenaikan kasusnya lebih dari 100 persen dan pada saat bersamaan kondisi BOR-nya lebih dari 70 persen. Kondisi ini bisa berpotensi kematian akibat terlambatnya penanganan oleh pihak rumah sakit.

"Keadaan ini menunjukkan bahwa penanganan tersebut sudah mulai tidak terkendali dan, apabila terus dibiarkan seiring dengan bertambahnya kasus, rumah sakit akan penuh dan pasien dengan gejala sedang-berat tidak dapat ditangani dengan cepat. Kondisi ini dapat meningkatkan potensi kematian," ujar Wiku.

Berikut ini 9 kabupaten/kota yang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan dengan kenaikan kasus lebih dari 100 persen dan BOR lebih dari 70 persen:
1. Kudus dengan kenaikan kasus mencapai 7.594 persen dan BOR sudah mencapai 90,2 persen
2. Jepara dengan kenaikan kasus 685 persen dan BOR mencapai 88,18 persen
3. Demak dengan kenaikan kasus 370 persen dan BOR mencapai 96,3 persen.
4. Sragen dengan kenaikan kasus 338 persen dan BOR mencapai 74,84 persen.
5. Bandung dengan kenaikan kasus 261 persen dan BOR mencapai 82,73 persen.
6. Cimahi dengan kenaikan kasus 250 persen dan BOR mencapai 76,6 persen.
7. Pati dengan kenaikan kasus 205 persen dan BOR mencapai 89,57 persen.
8. Kota Semarang dengan kenaikan kasus 193 persen dan BOR mencapai 87,95 persen.
9. Pasaman Barat dengan kenaikan kasus 157 persen dan BOR mencapai 75 persen.

"Saya ingin kepala daerah dan gubernur memperhatikan kondisi di daerahnya dan segera mengambil langkah perbaikan yang dapat dilakukan," ujar Wiku.

Satgas COVID-19 menyebut BOR yang tinggi dapat diturunkan dengan mengkonversi tempat tidur biasa menjadi tempat tidur untuk pelayanan COVID-19. Selain itu, bisa dilakukan dengan mentransfer atau merujuk pasien ke RS daerah terdekat.

Sementara itu, untuk pasien gejala ringan dan tanpa gejala diusahakan melakukan isolasi mandiri di kediaman masing-masing atau jika dimungkinkan di tempat isolasi terpusat jika tersedia di daerah masing-masing.

"Kenaikan kasus yang tinggi dapat terjadi akibat periode Idul Fitri yang syarat dengan kegiatan-kegiatan yang menimbulkan kerumunan seperti berkumpul bersama keluarga, berbelanja baju Lebaran, bertamasya ke tempat wisata maupun ke mal, bahkan perjalanan antarwilayah. Untuk itu, hal yang dapat dilakukan adalah terus mendata, memasifkan testing, dan memastikan karantina mandiri 5x24 jam dari warga yang pulang dari bepergian wilayah antarwilayah," imbuhnya.


Kenaikan Kasus COVID-19 Setelah 3 Minggu Lebaran Dibanding 2020 Lebih Rendah

Satgas COVID-19 menyebut kenaikan kasus COVID-19 setelah 3 minggu Lebaran pada 2021 lebih rendah dibanding kenaikan jumlah kasus COVID-19 setelah 3 minggu Lebaran pada 2020.

"Jika dilihat pada minggu ketiga pasca-Idul Fitri, perbedaannya semakin signifikan. Pada 2020 kenaikannya mencapai 80,5 persen, sedangkan pada 2021 kenaikannya hanya 53,4 persen," kata Wiku.

Kenaikan setelah 3 minggu Lebaran pada 2020 dikontribusikan oleh Jawa Timur sebesar 535 persen, Sulawesi Selatan (293 persen), Kalimantan Selatan (113 persen), Jawa Tengah (44,2 persen), dan DKI Jakarta (38,4 persen).

Sementara itu, kenaikan 53,4 persen pada tiga minggu setelah periode Idul fitri pada 2020 dikontribusikan oleh Jawa Tengah sebesar 120 persen, Kepulauan Riau (82 persen), Sumatera Barat (74 persen), DKI Jakarta (63 persen), dan Jawa Barat (23 persen).

"Jika dilihat lebih dalam kenaikan pada tingkat provinsi di tahun ini tidak sebesar di tahun lalu. Jika di tahun lalu kenaikan di tingkat provinsi mencapai hingga 500 persen, tahun ini kenaikan paling tinggi hanya 120 persen. Namun kita tidak bisa hanya melihat keadaan di tingkat provinsi saja. Perlu juga diperhatikan keadaan di tingkat kabupaten dan kota," ujarnya.

Lebih lanjut Satgas COVID-19 mengingatkan kenaikan kasus di kabupaten/kota yang menyumbang kenaikan kasus di tingkat provinsi. Adapun kabupaten/kota dengan kenaikan kasus tertinggi di lima provinsi, yaitu Jawa Tengah dikontribusikan oleh Kudus sebesar 7.594 persen, Jepara (685 persen), Sragen (338 persen), Kota Semarang (193 persen), dan Kabupaten Semarang (94 persen).

Tonton Video: Waspada! Tingkat Keterisian RS Covid-19 Kini Naik 25 Persen

[Gambas:Video 20detik]



(yld/imk)