Usai ke Kudus, Menkes Nilai Nakes Cadangan Sangat Diperlukan saat Pandemi

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 07 Jun 2021 18:31 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebutkan warga di Kudus, Jawa Tengah, tidak dapat menerima perawatan secara maksimal karena dokter dan tenaga kesehatan terpapar COVID-19. Budi Gunadi mengatakan tenaga kesehatan cadangan diperlukan saat ini.

"Saya baru kembali dari Kudus habis itu dokter sama tenaga kesehatannya, 385 orang kena COVID, tidak bisa dateng ke rumah sakit, nggak ada yang merawat," ujar Budi Gunadi dalam rapat Pansus Otsus Papua, di DPR, Senin (7/6/2021).

Budi membandingkan jumlah tenaga kesehatan dengan personel TNI dan Polri. Menurutnya, TNI dan Polri memiliki tentara cadangan sedangkan bidang kesehatan tidak memiliki pasukan cadangan.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin rapat Pansus Otsus Papua di DPR (Dwi Andayani/detikcom)Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin rapat Pansus Otsus Papua di DPR (Dwi Andayani/detikcom)

"Kalau TNI dan Polri aja punya tentara cadangan, kalau perang bisa diperiwitin naik dari 3 ratus tentara aktif jadi satu juta, kenapa kita ndak punya pasukan kesehatan cadangan," kata Budi Gunadi.

Menurutnya, saat ini perlu disiapkan sistem untuk menambah jumlah tenaga kesehatan. Sehingga menurutnya resiliansi dalam bidang kesehatan kuat dalam menghadapi pandemi.

"Kita bangun dari sekarang kita siapkan sistemnya sehingga pada saat perang menghadapi pandemi mereka juga bisa dipanggil. Supaya resiliensi dari kesehatannya kuat," kata Budi Gunadi.

Dia menuturkan, di bidang kesehatan, musuh yang dihadapi tidak terlihat. Dalam menghadapi pandemi dibutuhkan jaringan laboratorium untuk mengetahui asal usul virus.

"Kita nggak punya jaringan lab, musuh kita ini bukan musuh teroris manusia, musuh teroris yang nggak keliatan bisa dilihat hanya dengan lab. Supaya tahu ini teroris (virus) dari mana datangnya, dari Inggris, Afrika Selatan atau dari India. Itu jaringan labnya kita nggak punya," tuturnya.

Dia mengatakan, pertambahan ini diperlukan di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini untuk memastikan resiliensi kesehatan kuat saat terjadi ledakan pandemi.

"Saya berharap di timur, di tengah, barat, kita harus punya apalagi di Papua saya kira harus punya, satu center untuk memastikan resiliensi dari sistem kesehatan kita kalau terjadi ledakan pandemi juga kuat," kata Budi.

"Contoh dokter, kita hanya punya 0,4 dari 1.000, harusnya 1/1000 standar Asia. Negara maju 3/1000 saya tanya lima tahun yang lalu gimana, begitu juga 10 tahun yang lalu begitu juga 20 yang begitu juga jadi saya pikir masa sudah 20-25 tahun nggak selesai-selesai urusan menciptakan dokter yang cukup buat melayani seluruh rakyat kita," tuturnya.

(dwia/jbr)