Doktor Politik Ini Nilai Ucapan Selamat Anies ke RK Bermuatan Politis

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 15:21 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi sejumlah menteri, menggelar rapat bersama pejabat daerah membahas pencegahan dan penangananbanjir Jabotabek, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (08/01/2020). Hadir pejabat daerah antara lain Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Banten, Wahidin Halid, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, dan Bupati Bogor Ade Yasin.
Anies Baswedan dan RIdwan Kamil (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberi ucapan selamat kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) karena Jawa Barat meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK RI. Ucapan selamat ini dinilai sebagai bentuk komunikasi menjelang Pilpres 2024.

"Ucapan Mas Anies ke Ridwan Kamil adalah ekspresi solidaritas sebagai sesama kepala daerah, yang tengah berjuang menjalankan pemerintahan lokal yang sangat ketat secara anggaran, dan pengawasan di masa pandemi. Jadi status WTP dari BPK itu memberikan rasa lega bagi mereka," kata Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs, Ahmad Khoirul Umam, kepada wartawan, Selasa (1/6/2021).

Selain dinilai sebagai bentuk ekspresi solidaritas, ucapan selamat Anies dinilai mengandung muatan politis.

"Tapi, ucapan Mas Anies ke RK itu tentu mengandung muatan politis. Sebab, status WTP seolah memberikan stempel berjalannya tata kelola pemerintah yang baik (good governance). Kemampuan political leadership untuk menghadirkan governance itu bisa menjadi bekal politik dalam memasuki bursa capres-cawapres 2024 mendatang," ucap Umam.

Doktor politik lulusan University of Queensland ini mengatakan, meski keduanya digadang-gadang menjadi capres 2024 versi beberapa survei, keduanya masih memiliki kendala. Kendala mereka, kata Umam, adalah tidak punya basis pendukung partai yang riil.

"Ini berbeda dengan Prabowo dan AHY, yang memiliki modal politik yang jelas. Karena itu, Anies dan RK harus berjuang keras untuk meyakinkan partai-partai bahwa mereka layak didukung dan diajukan dalam kontestasi di tingkat nasional," paparnya.

Hal senada disampaikan Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes. Arya juga menilai ucapan Anies ke RK adalah hal biasa. Namun, karena keduanya adalah kandidat capres di beberapa survei, ucapan selamat itu menjadi istimewa untuk keduanya.

Dalam analisisnya, Arya mengatakan Anies dan RK dan kandidat capres yang belum memiliki partai politik sedang mencari kesempatan membangun hubungan politik. Arya menilai komunikasi Anies dengan RK adalah salah satu contoh membangun komunikasi menjelang Pilpres 2024.

"Jadi mereka dalam situasi belum pasti menjelang pilpres, belum pasti maksud saya kan partai-partai belum menjelaskan preferensi mereka kecuali beberapa partai misal Golkar yang sudah jelas, bahkan PDIP belum terang-terangan usul Ganjar-Puan atau siapa. Nah, dalam situasi belum pasti itu, akhirnya membuat kandidat termotivasi saling berhubungan, karena tidak menutup kemungkinan mereka akan berpasangan karena dalam situasi nggak pasti ini," papar Arya.

"Skenario-skenario pasangan itu masih sangat cair, belum ada yang fix, masih rentan berubah, tukar guling masih rentan terjadi, maka skenario sangat ekstrem bisa saja kandidat ini tidak dapat pencalonan karena sampai sekarang belum pasti, belum ada partai yang menggrasi juga, akan mengusung Anies atau RK, menggrasi maksudnya beri jaminan," lanjutnya.

Lihat juga video 'Masuk 5 Besar Survei Capres 2024, RK: Belum Ada Janur Kuning':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya >>>