Hari Kelahiran Pancasila

Kontroversi RUU HIP soal Trisila dan Ekasila

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 07:21 WIB
Massa dari berbagai ormas melakukan longmarch dari Gedung DPRD Sumedang menuju ke bundaran Alam Sari. Mereka menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP).
Ilustrasi demo menolak RUU HIP (Foto: Muhamad Rizal)
Jakarta -

Hari ini diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Mengenai dasar negara ini, sempat mengemuka pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP), yang mengusulkan trisila dan ekasila.

Rancangan Undang-Undang HIP ini merupakan usulan DPR. Belakangan, pemerintah meminta DPR menunda pembahasan RUU ini.

Muatan trisila dan ekasila

RUU HIP menjadi polemik lantaran terdapat muatan trisila. Trisila itu adalah sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan, dan ekasila, yaitu gotong royong.

Mengenai ekasila dan trisila ini ada pada draf pasar 7. Dilihat detikcom dalam draf RUU HIP, Senin (15/6/2020), Pasal 7 menjelaskan mengenai ciri pokok Pancasila. Berikut bunyinya:

Pasal 7
(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.
(2) Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.
(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

RUU HIP juga menyulut kontroversi karena tidak menyertakan tap MPRS mengenai pembubaran PKI dalam konsideran 'mengingat' di draf RUU tersebut.

Tap MPRS mengenai pembubaran PKI itu bernama lengkap Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara, dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme.

RUU HIP merupakan RUU usul inisiatif DPR. Hal itu disampaikan oleh Badan Legislasi DPR.

"RUU tersebut saat ini sudah menjadi usul inisiatif DPR dan sudah dikirimkan ke pemerintah. Sesuai UU 15/2019 tentang PPP (Penyusunan Peraturan Perundang-undangan), pemerintah memiliki waktu 60 hari untuk setuju atau menolak pembahasan. Saat ini tidak ada pembahasan apa pun," kata Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Achmad Baidowi (Awiek) saat dimintai konfirmasi, Senin (15/6/2020).

"Kalau nanti pemerintah setuju membahas, akan ditentukan di AKD mana RUU tersebut dibahas," imbuhnya.


Sekilas mengenai trisila dan ekasila

Istilah trisila dan ekasila ini dikemukakan oleh Sukarno. Sukarno mengemukakan soal trisila dan ekasila di depan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Kepada para peserta sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai kala itu, Sukarno menjelaskan soal Pancasila yang berisi kebangsaan, internasionalisme atau peri-kemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan ketuhanan. Apabila lima sila diperas lagi menjadi tiga, maka isinya adalah trisila: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan.

"Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?" kata Sukarno seperti yang tertuang dalam transkrip pidatonya saat itu. Pidato itu bisa diunduh di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Bila trisila diperas lagi menjadi satu, akan bernama ekasila/eka sila, isinya yakni gotong royong.

"Inilah, Saudara-saudara, yang saya usulkan kepada Saudara-saudara. Pancasila menjadi trisila, trisila menjadi ekasila. Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: trisila, ekasila, ataukah pancasila. Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya. Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi," tutur Sukarno.

Simak penolakan ekasila dan trisila pada halaman selanjutnya.