Spotlight

Prabowo Dicapreskan PDIP? Perjanjian Batu Tulis Belum Pernah Nyata

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 27 Mei 2021 13:45 WIB
Jakarta -

Partai Gerindra membuka peluang Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menjadi calon presiden pada Pilpres 2024 usungan PDIP. Peluang ini terbuka usai Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berpolemik dengan PDIP soal peluang Pilpres 2024.

Terbukanya kembali peluang Gerindra untuk berkoalisi dengan PDIP dalam Pilpres 2024 mengingatkan publik pada Perjanjian Batu Tulis. Kala itu, Ketum PDIP Megawati Sukarnoputri berjanji bakal mengusung Prabowo dalam Pilpres 2014.

PDIP dan Gerindra pernah berkoalisi pada 2009. Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Ketum PDIP Megawati Sukarnoputri pernah berduet di Pilpres 2009.

Namun kala itu pasangan yang dikenal dengan tagline 'Mega Pro' ini hanya meraih 26,79 persen suara. Masih mengungguli duet Jusuf Kalla-Wiranto (12,41%), tapi harus mengakui kemenangan telak Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengamankan masa jabatan keduanya dengan satu putaran setelah mengantongi 60,80% suara.

PDIP-Gerindra masih terus bersama. Yakni ketika Prabowo mendukung penuh Basuki Tjahja Purnama (Ahok) berpasangan dengan Jokowi untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Prabowo bahkan rela turun gunung mau menemani Jokowi-Ahok untuk mendaftarkan diri menjadi cagub-cawagub DKI Jakarta. Jokowi-Ahok akhirnya menang.

Mendekati Pilpres 2014, drama kekalahan di masa lalu mulai terungkap. Sejumlah elite PDIP menyebut kekalahan Mega-Prabowo kala itu lantaran ketum Gerindra tersebut tak mau mengeluarkan logistik, meski kekayaannya kala itu hampir Rp 2 triliun. Pernyataan ini terlontar kala itu karena Gerindra menagih komitmen Megawati mendukung Prabowo di Pilpres 2014 yang ternyata diingkari.

Perjanjian Batu Tulis Disepakati

Mega dan Prabowo menandatangani perjanjian sebelum keduanya resmi maju di Pilpres 2004. Naskah yang dirumuskan di Batu Tulis, Bogor, itu berisi kesepakatan dua pihak, yakni Megawati dan Prabowo. Dalam kesepakatan ini, Prabowo meminta agar diberi keleluasaan mengatur ekonomi Indonesia dan menunjuk 10 orang menteri terkait.

Sedangkan Megawati juga menyatakan bahwa akan mendukung pencapresan Prabowo di Pilpres 2014 ini. Alih-alih mendukung Prabowo, Megawati justru mengusung Jokowi, yang saat itu popularitasnya sedang moncer. Hubungan PDIP-Gerindra pun merenggang, apalagi setelah Jokowi terpilih menjadi presiden. Gerindra bersama PKS pun jadi 'sahabat' oposisi, bahkan keduanya selalu mengagungkan diri sebagai koalisi permanen.

Dalam Pilpres 2019, ternyata jarak renggang antara PDIP dan Gerindra itu masih terbentang lebar. Jokowi kembali diusung oleh PDIP. Sedangkan Gerindra kembali mengusung Prabowo. Persaingan dalam Pilpres 2019 pun sangat panas. Akhirnya, Jokowi kembali terpilih menjadi presiden.

Kendati begitu, perlahan-lahan drama panas persaingan antara PDIP dan Gerindra ini mulai mencair. Puncaknya, ketika Prabowo menemui Megawati di kediaman Megawati, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Rabu (24/7/2019). Prabowo mencicipi nasi goreng buatan Megawati, yang rasanya diakuinya sangat luar biasa.

Peluang Prabowo Capres PDIP Terbuka Lagi

Peluang Prabowo untuk menjadi capres yang diusung oleh PDIP kembali terbuka. Peluang ini terbuka usai Ganjar berpolemik dengan partainya soal posisi capres 2024. Ganjar disebut sedang menyiapkan pasukan medsos dan disindir oleh Puan Maharani.

Gerindra mengaku menjaga hubungan baik dengan sang ketum partai berlambang banteng itu. Salah satu indikatornya adalah hubungan baik Prabowo dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Hubungan kita yang baik dengan PDIP, hubungan Pak Prabowo yang baik dengan Ibu Mega, saya kira semua sudah tahu sejak beliau belum ditetapkan sebagai Menhan dan sampai sekarang hubungan itu baik, tidak ada masalah dan itu menjadi sebuah kemungkinan adanya peluang untuk dimungkinkannya Pak Prabowo maju bersama PDI. Tapi pembicaraan tentang itu belum sampai pada hal-hal yang detail," kata Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat, Kamis (27/5/2021).

Muzani mengatakan, dari hasil survei yang bermunculan, nama Prabowo masuk kategori calon presiden terpopuler serta elektabilitasnya tinggi. Muzani menyebut Prabowo juga telah mendapat dukungan dari kader Partai Gerindra.

"Ya hampir semua survei menyebut Pak Prabowo adalah calon presiden yang paling populer, calon presiden yang elektabilitasnya bagus paling tinggi. Kedua, yang ingin kami sampaikan, semua kader Partai Gerindra kami punya dua forum ada rapat pimpinan nasional, ada kongres luar biasa. Di dua rapat ini rapat yang memilikinya kewenangan tertinggi menurut anggaran dasar, anggaran rumah tangga, semuanya meminta Pak Prabowo untuk maju menjadi calon presiden 2024," ujarnya.