Round-Up

5 Kisah Tak Biasa Warga Desa Mendadak Miliarder di Takalar

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 23 Mei 2021 06:26 WIB

3. Tanah Sempat Lebih Murah dari Langsat

Cerita desa mendadak miliarder karena proyek bendungan Pammukkulu di Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tidak langsung terdengar indah karena tanah di desa ini sempat dihargai Rp 3.000 per meter. Warga pun membandingkannya harga langsat yang lebih mahal.

"Murah, lebih mahal harga langsat (per kilogram) itu hari," ujar warga bernama Nurni Daeng Nai (50) saat berbincang dengan detikcom, Jumat (21/5/2021).

Sebagai perbandingan, kata Nurnia, harga lahan warga saat itu kalah dengan harga buah langsat di Kabupaten Takalar, yang saat itu menyentuh angka Rp 5.000 per kilogram.

Murahnya harga tanah pada pembebasan tahap pertama membuat warga tidak henti-hentinya melakukan aksi demonstrasi. Penolakan harga yang tak rasional itu dilakukan pada tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke pusat.

"Saya sendiri ke (Kementerian) PUPR itu hari, berapa orang kami itu. Saya sendiri perempuan protes harga lahan," katanya.

4. Diserbu Marketing

Warga Desa Kale Komara, Kabupaten Takalar, langsung memborong kendaraan mobil hingga motor setelah menerima uang dari ganti rugi lahan bendungan Pammukkulu. Tim marketing dealer kendaraan yang langsung menyerbu warga desa setelah menerima biaya ganti rugi lahan tersebut.

Pantauan detikcom, Jumat (21/5/2021), puluhan orang dari tim marketing datang ke desa itu. Para tenaga marketing kemudian mendatangi kantor desa setempat untuk mengetahui siapa saja warga yang mendadak miliarder sehingga mereka segera membawa brosur ke rumah-rumah warga yang dimaksud.

"Sejak beberapa hari terakhir ramai memang (kedatangan tim marketing)," ujar warga desa, Jalaluddin, kepada detikcom.

Khusus untuk para tim marketing mobil, mereka datang dengan membawa mobil keluaran terbaru mereka sebagai alat untuk promosi kepada warga. Terkait kedatangan tim marketing tersebut, Jalaluddin mengaku bisa menerima 4-5 brosur setiap hari.

"Kayak ini saja bisa 4-5 brosur mobil saya terima. Sekarang tambah juga brosur rumah dari Makassar, untuk investasi katanya," jelas Jalaluddin.

Sementara itu, seorang tenaga marketing perumahan, Akbar, mengaku dia dan sejumlah rekannya sengaja ditugasi perusahaan mereka di Makassar untuk menawarkan pembelian rumah kepada warga.

"Sejak desa ini ramai diberitakan karena mendadak jadi miliarder, kami sengaja dari Makassar untuk memasarkan beberapa perumahan yang perusahaan kami punya," kata Akbar saat ditemui terpisah.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.