ADVERTISEMENT

Cerita Saksi Kirim 3 Lusin Wine Pesanan Sespri Edhy Prabowo

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 19 Mei 2021 20:16 WIB
Sidang ekspor benur.
Sidang ekspor benur (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Seorang saksi bernama Ery Cahyaningrum dalam persidangan kasus ekspor benur mengaku pernah mengirimkan 3 lusin botol wine untuk sekretaris pribadi Edhy Prabowo, Amiril Mukminin. Wine itu dikirim ke dua tempat di Widya Chandra dan Kalibata.

Amiril Mukminin adalah terdakwa kasus ekspor benur. Ery merupakan tenaga ahli Partai Gerindra. Dia bersaksi untuk Amiril, Edhy Prabowo, Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Ainul Faqih (sespri istri Edhy), serta pemilik PT Aero Cipta Kargo, Siswadhi Pranoto Loe.

Awalnya, jaksa mengonfirmasi apakah Ery pernah bertransaksi dengan Amiril. Ery mengaku pernah diminta Amiril membeli wine yang diimpor dari luar negeri.

"Ada (transaksi) 10 November untuk pembelian wine. Amiril pesan karena saat itu ada embargo produk Prancis. Saya diminta mencarikan. Saya ada kenalan importir wine dan saya diminta bantu carikan, lalu saya cari," kata Ery di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (19/5/2021).

Ery mengatakan Amiril mentransfer langsung Rp 99,4 juta. Saat itu Amiril memesan 3 lusin wine.

"(Pesan) 3 lusin karena beda jenis wine-nya ada Prancis dan Australia. Iya, ada 26 botol, dikirim ke Widya Chandra dan Kalibata. Jeniswine-nya beda-beda, ada Prancis dan ada Australia," kata Ery.

Dua jenis wine yang dikirimkan Ery adalah Chateau Pontet-canet Pauillac Grand Cru dan Australian Red Wines. Pembayaran dilakukan secara transfer.

"Pembayaran melalui dua rekening pertama dari Achmad Bahtiar Rp 50 juta dan kedua dari Amri Rp 49 juta," tutur Ery.

Hakim ketua Albertus Usada pun berkelakar tentang harga wine itu. Hakim Albertus menyebut wine itu harganya mahal.

"Ini Saudara kan tenaga ahli Partai Gerindra, kok keterangannya malah terkait dengan wine. Apalagi ini wine mahal Chateau Pontet-canet Pauillac Grand Cru. Saya pernah minum itu, tapi mahal banget," kelakar ketua majelis hakim Albertus Usada.

Jaksa Dalami Pembelian Perabot Rumah Edhy Prabowo

Sementara itu, dalam sidang ini, jaksa KPK mengonfirmasi ke dua saksi tentang proses pembelian perabot rumah tangga Edhy Prabowo di Muara Enim, Sumatera Selatan. Jaksa mengonfirmasi ke sekretaris pribadi Edhy Prabowo pada 2010-2015, Yofiana Dwi Nasution.

Yofiana mengatakan awalnya mendapat perintah dari stafsus Edhy bernama Safri, yang juga terdakwa dalam kasus ini untuk membeli sofa dan seprai.

"Pak Edhy di rumah dinas Widya Chandra pernah tanya, 'Siapa ya yang kira-kira bisa bantu saya untuk isi rumah di Palembang?', lalu bang Safri katakan 'Yofi saja'. Saya diam saja, tapi namanya disuruh atasan nggak mungkin saya tolak," kata Yofiana.

Yofi mengaku, setelah menyanggupi perintah itu, Amiril mentransfer uang Rp 200 juta untuk dibelikan perabotan. Perabotan kemudian dibelikan oleh suami Yofi bernama Fachrizal Kasogi.

Kasogi, yang juga hadir dalam sidang ini, mengungkapkan, dari Rp 200 juta, yang terpakai untuk membeli perabotan rumah Edhy sebesar Rp 98 juta. Itu digunakan membeli perabotan elektronik rumah Edhy.

"Dari Rp 200 juta, yang dibelanjakan Rp 98 juta sekian, tapi kemudian sebesar Rp 25 juta saya pinjam karena saya habis menabrak mobil dan Rp 75 sudah diserahkan ke KPK," kata Kasogi.

Namun Yofiana belum sempat mengirimkan perabot tersebut ke Palembang. Sebab, Edhy dkk keburu terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK pada 25 November 2021 dini hari.

Dalam sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Edhy Prabowo bersama stafsus, Ketua Tim Uji Tuntas Perizinan Budi Daya Lobster Andreau Misanta Pribadi, Safri selaku stasfus Edhy dan Wakil Ketua Tim Uji Tuntas, Amiril Mukminin selaku sekretaris pribadi Edhy, Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Iis Rosita Dewi, serta Sidwadhi Pranoto Loe selaku Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) dan pemilik PT Aero Citra Kargo (PT ACK).

Edhy dkk didakwa menerima uang suap yang totalnya mencapai Rp 25,7 miliar dari pengusaha eksportir benih bening lobster (BBL) atau benur. Jaksa mengatakan uang suap diterima Edhy dari beberapa tangan anak buahnya.

Tonton juga Video: Cerita Saksi soal Edhy Prabowo Minta Rp 5 M untuk Izin Budidaya Benur

[Gambas:Video 20detik]



(zap/idn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT