Disalahkan soal Ibu-Bayi Wafat Usai Persalinan, RS di Sumut Buka Suara

Perdana Ramadhan - detikNews
Selasa, 18 Mei 2021 16:31 WIB
Keluarga pasien meninggal usai persalinan di Asahan (Perdana-detikcom)
Keluarga pasien meninggal usai persalinan di Asahan (Perdana/detikcom)
Asahan -

Keluarga di Asahan, Sumatera Utara, menyalahkan salah satu rumah sakit (RS) yang dituduh lalai dan menyebabkan ibu serta bayi wafat usai persalinan. Pihak RS buka suara menepis tudingan itu.

Dilihat detikcom, Selasa (18/5/2021), tudingan itu viral lewat video yang diunggah oleh akun Facebook Yulia Sinagaa.

Ada beberapa foto dan narasi terkait pelayanan rumah sakit yang disebutnya tidak maksimal hingga dia harus kehilangan kakak ipar dan keponakannya yang baru lahir. Dia menuding petugas menganggap sepele persoalan nyawa.

"Karena kelalaian dan sepele petugas medis nyawa pun hilang," tulisnya.

Yulia juga menceritakan penanganan kelahiran istri dari abang kandungnya di RS Bunda Mulia, Kisaran. Dia menyebut pihak RS tak memberi pelayanan yang baik sehingga kakak ipar dan bayi yang baru dilahirkan wafat tak lama usai persalinan.

Orang tua dari Yulia Sinaga, Rindu br Aritonang (55), yang merupakan ibu mertua pasien yang meninggal dunia bersama bayinya sesaat usai persalinan, juga menceritakan hal yang sama saat ditemui di rumahnya. Dia mengaku menyaksikan pelayanan RS yang bertele-tele sehingga menantunya meninggal usai melahirkan.

"Jadi mulanya itu hari Sabtu, tanggal 15 Mei menantuku mau melahirkan, pertama dibawa pertama ke Puskesmas lalu dianjurkan ke rumah sakit. Kami sampai di rumah sakit itu sekitar jam 9 malam," kata Rindu.

Rindu mengatakan pasien tidak langsung ditangani karena belum ada dokter. Dia menyebut hanya ada beberapa perawat yang memeriksa. Padahal, katanya, menantunya sudah merasakan sakit.

"Malam itu di rumah sakit, perawat di sana bilang masih bisa melahirkan normal ini, jadi kami tunggu juga sambil menunggu dokter datang," kata dia.

Pasien disebut makin lemah dan belum mendapatkan penanganan dokter hingga keesokan harinya. Keluarga yang semakin cemas, katanya, meminta operasi segera dilakukan.

"Itu dari Sabtu malam jam 9 kami di rumah sakit sampai besoknya hari Minggu sore sekitar jam 5 barulah dioperasi menantuku ini. Hasilnya lahirlah cucuku perempuan dan sudah meninggal," ujarnya.

Ibu dari bayi tersebut kemudian meninggal pada Senin (17/5) pagi. Pihak keluarga menuding lambatnya penanganan RS menjadi pemicu musibah ini.

Pihak RS Tepis Tuduhan Keluarga

Penanggungjawab RS Bunda Mulia Kisaran, Binsar P Sitanggang menjelaskan pihaknya telah melakukan pelayanan sesuai standar. Dia menyebut pasien datang dalam kondisi normal dan tidak ada indikasi operasi.

"Pasien datang dalam kondisi fisiologis normal tidak ada indikasi operasi," ucapnya.

Dia juga menuding keluarga menyuruh pasien merangkak sejauh 5 meter selama 2 jam. Hal itu, katanya, menyebabkan gangguan pada rahim.

"Ada intervensi keluarga untuk menyuruh pasien jongkok dan merangkak merangkak sejauh lima meter itu selama dua jam. Sehingga lepas plasenta di dalam rahim hingga dilakukan operasi," kata Binsar.

(haf/haf)