Satgas Soroti Kenaikan COVID di Sumatera, Penyekatan Diperketat

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 13:50 WIB
Petugas Puskesmas Karangsambung, Kabupaten Bekasi, melakukan tes swab antigen di posko kesehatan, Jumat(7/5/2021).
Tes antigen acak akan dilakukan di sejumlah titik saat arus balik nanti. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto mengatakan ada 1,5 juta warga yang memaksa mudik pada Lebaran tahun ini. Dia mengatakan jumlah ini turun dari jumlah prediksi awal.

"Dari data awal, dikatakan (warga ingin) mudik 7 persen itu sebanyak 17 juta, dari Operasi Ketupat dan penyekatan-penyekatan yang dilakukan, data dari Kemenhub menyatakan sekitar 1,5 juta yang memaksa mudik," kata Airlangga dalam jumpa pers daring, Sabtu (15/5/2021).

Dia mengatakan upaya penanganan untuk menghadapi arus balik Lebaran ialah dengan memperketat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) secara mikro. Dia mengklaim penyekatan tahun ini lebih efektif.

Dia mengatakan saat penyekatan ini, nantinya akan dilakukan tes cepat antigen secara acak di beberapa lokasi di Pulau Jawa dan Sumatera. Selain itu, dia mengatakan para pelaku perjalanan juga ada yang akan diminta menunjukkan surat bebas COVID-19.

"Penyekatan yang dilakukan lebih efektif dari tahun lalu. Kemudian langkah mandatory yang dilakukan, mulai 15 Mei, PCR maupun swab test, dan dilakukan random test. Pulau Jawa (ada) 21 titik menuju Jakarta diharap lebih memonitor mobilitas masyarakat," kata Airlangga.

Airlangga, yang juga Menko Perekonomian, menambahkan saat ini penanganan COVID-19 mengalami perbaikan. Meski begitu, dia meminta semua pihak tetap waspada.

"Dari kasus konfirmasi ada 2.633 kasus, kasus aktif 5,4 persen, kesembuhan 91,8 persen, dan meninggal 2,8 persen. Kita melihat, total persentase kesembuhan dan lain-lain kita lebih baik dari beberapa negara. Dan kita lihat secara nasional, BOR (bed occupancy rate atau tingkat keterisian ruang isolasi) 29 persen," bebernya.

Dia juga menyoroti soal tingginya tingkat keterisian tempat tidur untuk perawatan pasien COVID-19 di RS. Dia juga membeberkan penambahan kasus COVID-19 yang terjadi di Sumatera.

"Ada beberapa provinsi di Sumatera cukup tinggi. BOR di Riau 60 persen, Sumut 57 persen, Kepulauan Riau 53 persen, Sumbar 47 persen, Sumbar, Jambi, Kalbar 45 persen," ujarnya.

"Sedangkan kita melihat kasus muncul di Sumatera, namun dari berbagai tambahan itu, Riau itu naik cukup tinggi, Kepri sudah mulai menurun walaupun di atas 100, Aceh di atas 75, sedangkan Sumbar di bawah 300, Sumsel di atas 130-an, Jambi menuju 65, dan Sumut di atas 80, Babel di bawah 200, Bengkulu mendekati 40, Lampung mendekati 60 untuk kasus hariannya," imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua Penanganan COVID-19 Letjen Doni Monardo. Doni mengatakan penyekatan yang dilakukan secara ketat diperlukan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus di tempat lain.

Tercatat ada 440 ribu orang yang menyeberang ke Jakarta selama libur Lebaran. Penyekatan dilakukan untuk memastikan orang yang akan kembali ke Jakarta untuk bekerja dalam kondisi baik.

"Betul Sumatera mengalami tren kenaikan selama sebulan ini. Sementara itu, Pulau Jawa melandai. Kita tak ingin teori pingpong terjadi. Oleh karenanya, upaya pemerintah melakukan penyekatan bisa berhasil," katanya.

"Kalimantan Barat menerima begitu banyak PMI dari Malaysia, yang tak sedikit. Setelah dilakukan pemeriksaan, ada yang positif COVID. Oleh karenanya, kerja keras dan kerja sama di berbagai pemerintah kita beri apresiasi," tambah Doni.

(jbr/hri)