Kemenhub Tegaskan Tak Ada Istilah Mudik Lokal!

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 19:16 WIB
Terminal Penumpang Nusantara Pura sudah dipadati warga yang akan mudik lebih awal. Mereka menuju ke sejumlah daerah seperti Surabaya, Makassar hingga Papua.
Ilustrasi warga mudik. (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan tak ada istilah 'mudik lokal'. Kemenhub mengingatkan potensi penularan COVID-19 akibat mudik.

"Nggak ada. Jadi itu mudik lokal memang ya benar-benar diciptakan oleh masyarakat karena mungkin berasumsi bahwa tidak ada pelarangan pergerakan dan transportasi oh ya sudah mudik di tempat aglomerasi tadi boleh. Sekali lagi kami harus tegaskan kita harus paham dulu ini esensi mudik dalam situasi pandemi punya konsekuensi-konsekuensi," kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam live Instagram bersama Stafsus Presiden Fadjroel Rachman seperti dilihat, Rabu (5/5/2021). Adita menjawab pertanyaan Fadjroel soal ada-tidaknya istilah 'mudik lokal'.

Adita kemudian menjelaskan mengenai kawasan aglomerasi. Di kawasan aglomerasi tersebut, mobilitas dimungkinkan tetap terjadi.

"Jadi begini karena kami pernah mengumumkan daerah-daerah yang masih dimungkinkan terjadinya mobilitas itu kawasan yang disebut aglomerasi atau perkotaan. Jadi aglomerasi ini masih banyak masyarakat yang belum paham. Jadi sebenarnya simpelnya aglomerasi satu kawasan yang terdiri dari beberapa kabupaten, kota. Bisa satu provinsi atau beda provinsi yang berdekatan dan masyarakatnya itu tiap hari lalu lintasnya, setiap hari lintas kabupaten lintas kota, lintas provinsi udah kaya bus gitu antar kota antar provinsi, tiap hari dia melakukan itu," kata Adita.

Adita menjelaskan di kawasan aglomerasi tersebut masyarakat harus tetap beraktivitas.

"Nah di kawasan tersebut karena masyarakatnya harus beraktivitas setiap hari kita lihat 6 sampai 17 Mei itu kan cuma Lebaran-nya dua hari kan, hari yang lain orang bekerja orang beraktivitas, orang cari nafkah cari ekonomi. Nah tentu tidak bisa tutup kegiatan itu dengan cara melakukan transportasi atau pelarangan mudik. Jadi ini kawasan tetap harus melakukan aktivitasnya sehingga kegiatan transportasinya tidak kita lakukan pelarangan masyarakat boleh berpergian," jelas Adita.

Namun Adita mengingatkan masyarakat untuk memprioritaskan hal-hal penting. Dia meminta kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan dihindari.

"Tetapi kembali lagi selalu mengimbau dalam situasi pandemi kita prioritaskan mana yang penting bekerja cari nafkah mungkin itu sesuatu yang mandatorilah ya apalagi yang kerjanya harian, kalau dia tidak kerja sehari dua hari tidak punya penghasilan. Nah yang itu yang kita prioritaskan tapi kalau seperti wisata, seperti kumpul-kumpul, arisan keluarga atau ya mudik lagi ketemu lagi, reuni juga pokoknya yang berpotensi mengumpulkan orang cukup banyak, apalagi ketemunya lansia meskipun di kawasan aglomerasi atau perkotaan tolong jangan dilakukan dulu," tutur dia.

Adita menegaskan pada prinsipnya aktivitas mudik dilarang di mana pun. Dia meminta masyarakat menahan diri tidak bepergian.

"Kalau kami selalu menekankan ini sekarang kita yang ditekankan aktivitas mudiknya. Jadi mudik mau di kawasan aglomerasi kek, mau di luar kota, mau ke Jawa Tengah, mau ke Jawa Barat, mau ke Banjarmasin itu tahan dulu," imbuh Adita.

Simak video 'Berikut Wilayah yang Diperbolehkan 'Mudik Lokal', Mana Saja?':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/idn)