Jaksa Cecar Saksi soal Selisih Uang Kembalian Dana Hotel Atlet Triathlon

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 22:45 WIB
Suasana sidang kasus suap Mark Sungkar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (4/5/2021) (Zunita Amalia/detikcom)
Suasana sidang kasus suap Mark Sungkar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (4/5/2021). (Zunita Amalia/detikcom)
Jakarta -

Jaksa pada sidang lanjutan Mark Sungkar mengonfirmasi terkait adanya pengembalian dana penginapan atlet triathlon pada 2018 di sebuah hotel. Jaksa menyebut ada kekurangan pengembalian uang sebanyak Rp 124 juta.

Awalnya, jaksa memeriksa saksi bernama Ade Sudarmono, yang merupakan mantan manajer The Cipaku Garden Hotel Bandung, Jawa Barat. Jaksa mencecar Ade terkait invoice penginapan atlet triathlon.

"Saya yang buat (invoice) karena saya incharge-nya," kata Ade dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (4/5/2021).

Ade mengatakan dia membuat invoice di bawah harga yang tertera dalam kontrak penginapan, yakni Rp 50 juta atas permintaan Mark Sungkar dan Kemenpora. Ade mengaku awalnya tidak mau membuat invoice itu. Namun, karena ada surat resmi permintaan dari Pusat Federasi Triathlon Indonesia (PFTI) terkait pemecahan invoice itu, Ade mengaku menyanggupi itu.

Ade mengaku membuat invoice terkait penginapan atlet di hotel pada 3-21 Januari 2018. Jaksa kemudian bertanya ada atau tidaknya pengembalian uang ke PFTI.

"Iya ada pengembalian, seharusnya regulasi hotel kan nggak bisa ditransfer, untuk pengambilan nggak bisa ditransfer harus tunai. Waktu itu Pak Mark sampaikan 'saya nggak bisa ke Bandung karena cukup riskan saya bawa uang banyak jadi transfer aja'," sebut Ade.

Ade mengatakan pengembalian uang kegiatan yang ditunda PFTI dikembalikan ke rekening PFTI atas nama Mark Sungkar. "Yang disampaikan (Mark Sungkar) itu rekening PFTI atas nama Pak Mark Sungkar," sebut Ade.

Kemudian jaksa mengonfirmasi terkait kurangnya pengembalian uang. Jaksa menilai seharusnya uang hotel yang dikembalikan ke PFTI jumlahnya lebih besar dibanding yang dikembalikan Ade.

"Uang yang saksi terima, kembalikan ke rekening pribadi atas nama Pak Mark? Itu kita temukan selisih Rp 124 juta, apa uang itu Pak Ade kembalikan ke Mark Sungkar atau ke hotel?" tanya jaksa.

Namun, Ade mengaku tidak ingat. Jaksa kembali mencecar Ade. Jaksa mengungkapkan uang yang diberikan PFTI itu untuk penginapan Rp 413 juta. Tapi karena kegiatan dibatalkan, PFTI meminta uangnya dikembalikan dengan potongan fee 15%, yakni menjadi Rp 358,5 juta.

"Kemudian bapak kirim ke Mark Sungkar hanya sebesar Rp 289,1 juta, sehingga selisihnya Rp 69,4 juta. Kemudian di perjanjian kedua yang nggak ada kegiatan ada Rp 398,250 juta yang harusnya disetorkan ke Mark Sungkar. Namun disetorkan Pak Ade Rp 255,150 juta sehingga selisihnya Rp 56,4 juta. Sehingga kalau kita jumlahkan (dari dua kegiatan yang cancel) selisihnya Rp 124,125 juta. Nah Rp 124 juta ini dikembalikan ke Mark Sungkar atau ke Hotel The Cipaku?" cecar jaksa.

"Saya mau bantah ya. Yang jelas yang saya terima titipan accounting, karena hotel nggak mau transfer. Jadi hotel maunya pengembalian cash," jawab Ade.

Dalam sidang ini, jaksa akhirnya menunjukkan barang bukti berupa invoice dan bukti pengembalian uang yang ditandatangani Ade. Namun, Ade tetap menyangkal bukti itu.

Selain itu, Direktur The Cipaku Garden Hotel Bandung Jawa Barat Luciana Wibowo juga dihadirkan menjadi saksi. Dalam sidang ini, Luciana mengaku tidak tahu menahu terkait invoice yang dibuat karyawannya untuk Mark Sungkar itu.

"Pengembalian uang dipotong cancelation fee 15 persen, dan sisanya dikembalikan kepada rekening kepada Pak Ade, mungkin Pak Ade transfer lagi ke yang berwenang," kata Luciana.

Tanggapan Mark Sungkar

Mark Sungkar, yang duduk sebagai terdakwa, membantah beberapa kesaksian Ade. Mark mengaku dia tidak memerintahkan Ade membuat invoice pisah-pisah sebagaimana pengakuan Ade.

"Jadi saya tolak keterangan Anda, karena saya terima kuitansi full sesuai yang ditransfer keuangan. Saya bantah yang rinci Rp 50 juta, kalau (keterangan) yang lain kegiatan benar kami ada informasi tagihan dan itu yang dibayar. Arahan (membuat invoice) tidak ada, tidak benar, permintaan surat invoice tidak ada, tidak benar itu," tegas Mark.

Mark Sungkar didakwa melakukan perbuatan memperkaya diri, orang lain, dan korporasi melalui dana pelaksanaan kegiatan peningkatan prestasi olahraga nasional tahun anggaran 2018. Mark Sungkar juga didakwa membuat laporan keuangan fiktif.

Dalam dakwaan jaksa kapasitas Mark sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Triathlon Indonesia masa bakti 2015-2019. Perbuatan Mark Sungkar ini disebut jaksa telah merugikan negara senilai Rp 694.900.000.

Mark Sungkar didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 atau Pasal 9 juncto Pasal 18 ayat 1 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999.

(zap/jbr)