Polisi Periksa Ponsel Tersangka Demo Hardiknas: Ada Ajakan Aksi

Rahmat Fathan - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 18:34 WIB
Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers di Mapolda Jaya, Jakarta, Sabtu (25/7/2020) terkait kematian editor Metro TV, Yodi Prabowo. Polda Metro Jaya menyatakan kematian Yodi Prabowo karena bunuh diri dengan cara menusukkan pisau ke perut dan leher. Hadir dalam keterangan pers tersebut antara lain Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Polda Metro Jaya menetapkan 9 orang sebagai tersangka di demo Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Polisi juga memeriksa ponsel para tersangka dan menemukan adanya ajakan ke massa buruh untuk ikut demo.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan dari 9 tersangka itu tidak seluruhnya adalah mahasiswa, tetapi ada juga peserta aksi yang merupakan bagian dari Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

"Bukan semuanya mahasiswa (ikut demo) Hardiknas ini, bukan. Bahkan ada yang memanggil (untuk ikut aksi) di sini. Setelah kita buka, kita periksa di handphone-nya, dia yang mengajak," kata Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (4/5/2021).

"'Ayo teman-teman KASBI untuk kumpul semuanya, kita gabung semua di sini. Buru-buru semuanya di sini hadir'. Makanya ini tidak semuanya mahasiswa," Yusri menirukan kembali seruan aksi tersebut.

Yusri mengatakan, 9 mahasiswa dan buruh itu ditetapkan sebagai tersangka dengan persangkaan Pasal 14 UU Nomor 4 ahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, serta Pasal 216 ayat 1 dan Pasal 218 KUHP dengan ancaman 4 bulan penjara. Namun kesembilan orang tersebut tidak ditahan dan telah dipulangkan.

"Kami sudah tetapkan sebagai tersangka kesembilan orang dengan perannya masing-masing dan ini berproses. Negara kita negara hukum dan harus taat kepada hukum," ungkapnya.

Sementara itu, Yusri juga mengklarifikasi soal informasi bahwa kesembilan orang tersebut diperiksa tanpa pendamping hukum.

"Kemarin ada yang menyampaikan lagi 'Pak, kok nggak didampingi?' LBH aja ada di situ kok. Bahkan menawarkan diri menyampaikan bahwa dia jadi pengacara. Didampingi pada saat diperiksa," tuturnya.

Yusri meminta kepada mahasiswa dan buruh untuk mematuhi peraturan pemerintah terkait protokol kesehatan Covid-19. Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum diatur oleh undang-undang, akan tetapi massa diminta untuk memahami situasi pandemi COVID yang belum berakhir.

"Boleh menyampaikan, saya ulangi sekali lagi hak untuk menyampaikan, hak untuk berkumpul boleh. Menyampaikan pendapat di muka umum boleh. Ada aturan perundang-undangan, tetapi hak untuk mengerti kewajiban untuk sehat ini sekarang ini, situasi pandemi Covid-19 ini juga harus dimengerti, jangan jadi kluster," katanya.

"Kita sudah jenuh ini, dua tahun kita merasakan bagaimana Covid 19 ini jangan sampai seperti India, negara India. Apa mau negara kita seperti negara India?," tambahnya.

Simak video 'Demo Buruh di Patung Kuda Usai, Massa Bubarkan Diri':

[Gambas:Video 20detik]



(mea/fjp)