Pemerintah Didesak Perketat Aturan Jual-Beli Sianida

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 06:46 WIB
poison 2
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Takjil dicampur sianida yang salah alamat menewaskan anak driver ojek online di Bantul, Yogyakarta. Ahli Toksikologi dari Universitas Indonesia, Budiawan, meminta pemerintah memperketat aturan jual-beli racun berbahaya itu.

"Harus ketat itu, karena udah banyak kejadian. Orang masyarakat umum sudah tahu," kata Budiawan kepada wartawan, Senin (3/5/2021).

Budiawan menyebut aturan mengenai jual-beli zat beracun dan berbahaya sudah ditetapkan. Dia menekankan pembeli dari zat itu harus didata dan melampirkan salinan kartu identitas.

"Aturan itu sebenarnya sianida itu bahan beracun dan berbahaya, pertama wajib label bahan kimia, apalagi bahan berbahaya. Artinya labeling itu ada simbol, ada keterangan. Kemudian dalam penjual-belian itu harus terdata, dia harus minimal berikan keterangan harus dengan melampirkan fotokopi, atau difoto KTP-nya, harus begitu," kata dia.

Budiawan mengatakan sianida biasanya digunakan untuk racun ikan sehingga bisa didapatkan dengan mudah di warung atau via online. Dia meminta pemerintah melarang penjualan racun ikan itu.

"Terkait penggunaan ini kan pada umumnya racun ikan, itu untuk racun itu harusnya sekarang nggak boleh. Kan ikan nggak boleh diracun gitu dong, harusnya dipancing. Tegaskan lagi, pemerintah nggak boleh lagi, makanya maksudnya tujuan pembelian itu harus ada penjelasan. Kalau di luar negeri itu, zaman saya dulu paspor saya di-copy, kemudian saya isi formulir," tuturnya.

"Kalau potasium ini serbuk putih seperti gula atau garam. Nah itu yang agak riskan itu penjualan yang biasa di warung-warung di daerah itu. Kembali lagi yang saya katakan itu sudah tak boleh lagi lah, nggak perlu lagi, bukan zaman lagi menangkap itu pakai racun itu," sambungnya.

Lihat juga video 'Jerat Pasal Pembunuhan Berencana untuk Nani Peracik Takjil Sianida':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2