Kasus Meningkat, 1.205 Bencana Alam Terjang RI Sejak 1 Januari 2021

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 14:38 WIB
Foto udara situasi terakhir kerusakan yang diakibatkan banjir bandang di Waiwerang, Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (6/4/2021). Berdasarkan data pemerintah setempat hingga Selasa siang, sebanyak 50  orang meninggal dunia, 29 orang masih hilang, dan ratusan warga mengungsi akibat banjir yang terjadi pada Minggu (4/4). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Kerusakan akibat bencana alam di NTT (Foto: ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta -

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.205 bencana alam terjadi di Indonesia sejak 1 Januari hingga 30 April 2021. Bencana hidrometeorologi masih mendominasi sepanjang periode tersebut.

"Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor, dominan terjadi pada periode waktu tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (1/5/2021).

Raditya menyebut bencana banjir menjadi kejadian yang paling sering terjadi dengan 501 kali, disusul angin puting beliung 339, tanah longsor 233, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 97, gempa bumi 18, gelombang pasang dan abrasi 16, serta kekeringan 1.

"Dilihat dari periode waktu tersebut, total jumlah kejadian mengalami kenaikan 1 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan korban meninggal, total jumlah mengalami kenaikan 1,83 persen," ucapnya.

Dia membeberkan bencana alam dalam periode tersebut mengakibatkan korban meninggal 479 jiwa, hilang 60, luka-luka 12.900, dan menderita serta mengungsi hingga 5 juta jiwa. Menurutnya, bencana alam yang mengakibatkan korban meninggal tertinggi yaitu banjir 267 jiwa, gempa bumi 117, tanah longsor 86, angin puting beliung 7, dan karhutla serta gelombang pasang masing-masing 1.

Sedangkan kerusakan fisik, BNPB mencatat bencana menyebabkan kerusakan sektor perumahan dengan kategori rusak berat 14.936 unit, rusak sedang 23.347 dan rusak ringan 83.629. Selain kerusakan rumah, bencana alam juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum seperti tempat ibadah 1.363 unit, sarana pendidikan 1.350, perkantoran 494, sarana kesehatan 347 dan jembatan 295.

"Menyikapi kejadian bencana, masyarakat diimbau selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Ancaman bencana hidrometeorologi belum berakhir. Ini terbukti dengan kejadian tanah longsor di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menjelang akhir April lalu," ujarnya.

BMKG juga merilis peringatan dini cuaca pada esok hari (2/5) di beberapa wilayah masih berpotensi hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang. Di antaranya yaitu Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Selain potensi bahaya hidrometeorologi, Raditya juga mengimbau masyarakat agar mewaspadai potensi bahaya geologi, khususnya gempa bumi. Gempa bumi dapat terjadi kapan dan di mana saja.

"Oleh karena itu, masyarakat selalu menyiapkan sejak dini upaya-upaya kesiapsiagaan keluarga, yaitu mengenali risiko dan potensi bahaya di sekitar. Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan strateginya dengan membuat rencana kesiapsiagaan keluarga atau pun latihan di tingkat keluarga," pungkasnya.

(fas/hri)