Analisis Sosiolog soal Isu Babi Ngepet Sering Muncul Jelang Lebaran

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 27 Apr 2021 15:46 WIB
Suasana di lokasi heboh babi ngepet di Depok (Sachril-detikcom)
Suasana di lokasi heboh babi ngepet di Depok. (Sachril/detikcom)
Jakarta -

Penangkapan seekor babi di Bedahan, Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), jadi heboh karena diiringi isu babi ngepet. Sosiolog dari Universitas Nasional, Sigit Rochadi, menyebut fenomena babi ngepet ini sering kali muncul tiap bulan puasa.

"Ya itu hampir setiap tahun di bulan puasa menjelang hari raya, menjelang Idul Fitri itu ada muncul tentang babi ngepet, tentang bentuk-bentuk pesugihan, bentuk-bentuk kepercayaan orang untuk meraih kekayaan dalam waktu singkat gitu, entah itu babi ngepet, entah itu tuyul, entah itu buto ijo seperti itu," kata Sigit saat dihubungi, Selasa (27/4/2021).

Ia mengungkap fenomena babi ngepet atau tuyul maupun pesugihan biasanya muncul pada saat isu krisis ekonomi, maupun bulan puasa menjelang hari raya Idul Fitri. Alasannya, sebagian orang ada yang percaya cara mendapat kekayaan secara cepat.

"Ya biasanya dikaitkan dengan upaya orang untuk meraih pendapatan dalam waktu singkat. Dikaitkan dengan upaya orang untuk mengembalikan posisi ekonominya atau kedudukannya yang sempat hilang, yang sempat turun karena terjadinya krisis ekonomi jadi muncul seperti itu," ujarnya.

Meski begitu, ia mempertanyakan hingga saat ini belum ada video yang merekam perubahan wujud dari misalnya manusia menjadi babi. Ia juga menyoroti warga yang menangkap babi ngepet tanpa busana, menurut Sigit, hal tersebut merupakan isu kepercayaan di daerah tertentu yang muncul pada masa prafeodal.

"Lalu babi ngepet yang ditangkap itu yang terekam yang tak bisa difoto, betul-betul babi jelmaan, itu betul-betul tidak ada bukti, hanya orang ramai memperbincangkan itu sebagai suatu bentuk orang untuk mendapatkan kekayaan dengan cara-cara percaya pada kekuatan gaib," ungkapnya.

Ia menilai daerah Depok merupakan daerah religius, sehingga akan sulit menemukan adanya orang yang memelihara babi maupun menjual daging babi.

"Depok ini perkotaan, daerahnya sangat islami, terbukti dari dominannya PKS di daerah ini. Jadi daerahnya itu daerah yang sebenarnya nyaris tidak ada orang yang berani memelihara babi, apalagi jualan daging babi nggak berani di Depok, apalagi memelihara babi," ungkap Sigit.

Oleh karena itu, ia menilai apakah itu hewan babi atau babi jelmaan harus dapat dibuktikan. Misalnya oleh ahli atau peneliti yang dapat membedakan babi tersebut dari mulai darahnya atau struktur badannya.

"Kalau betul itu babi jadi-jadian kan darahnya berbeda, struktur tubuhnya berbeda, tapi apa benar ada orang gitu, kayaknya hanya di film-film aja manusia bisa menjadi serigala, serigala jadi manusia, tapi kalau secara logika belum ada ilmu apapun yang bisa menjelaskan perubahan manusia jadi hewan. Sulit dibuktikan kalau tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, karena itu sifatnya harus subjektivitas sepihak kalau mau lihat harus telanjang," ungkapnya.

Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial babi ngepet beraksi di Kota Depok, Jawa Barat (Jabar). Warga pun menangkap babi ini dan memasukkannya ke kandang.

Dari video dan narasi yang beredar, babi ngepet ini diamankan di kawasan Bedahan, Sawangan, Depok. Babi ini ditangkap dini hari tadi di RT 02 RW 04, pukul 00.20 WIB.

"Ya untuk sampai saat ini, sampai kronologi semalam ini, ya itu memang babi ngepet," kata Ketua RW 4 Bedahan Abdul Rosad saat dihubungi, Selasa (27/4/2021).

(yld/tor)