Kasus COVID India Pecahkan Rekor Dunia, Ini Fakta-fakta Lonjakannya

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 14:08 WIB
Virus Corona di India terus mengganas. Pemerintah India pada Kamis (22/4) ini melaporkan lebih dari 300.000 kasus infeksi virus Corona selama 24 jam terakhir.
COVID India melonjak, warga kekurangan pasokan oksigen (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Kasus COVID-19 India terus melonjak tajam sejak beberapa waktu belakangan. Mirisnya, angka kasus baru harian juga mengalahkan negara lainnya, termasuk Amerika Serikat (AS), yang berada di urutan teratas angka kasus harian tertinggi di dunia.

Lalu bagaimana fakta-fakta COVID-19 India yang bikin kasus melonjak?

Virus Corona di India terus mengganas. Pemerintah India pada Kamis (22/4) ini melaporkan lebih dari 300.000 kasus infeksi virus Corona selama 24 jam terakhir.Festival keagamaan Kumbh Mela menjadi salah satu penyebab COVID India melonjak (Foto: AP Photo)

Lebih dari 300 Ribu Kasus

Pada Kamis (22/4) kasus COVID-19 India mencapai lebih dari 314.835 kasus dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut adalah angka harian tertinggi di dunia, mengalahkan kasus harian tertinggi di dunia yang dicatat AS dengan 297.430 kasus pada Januari lalu.

Sementara itu, angka kematian juga melonjak dan membuat rekor baru. Kemenkes India menyatakan kini sudah mencapai 15,93 juta kasus COVID-19, dengan kematian total 184.657 kasus.


Ibu Kota Lockdown

Ibu Kota New Delhi mengambil langkah lockdown setelah angka kasus COVID-19 India naik tiga kali lipat dari AS.

Tempat-tempat terkenal seperti Benteng Merah yang bersejarah tampak sepi. Sejumlah polisi juga ditempatkan di jalan-jalan di New Delhi untuk memeriksa kendaraan yang berlalu lalang. Sementara itu, sejumlah restoran, mal, dan pusat kebugaran semuanya ditutup.

Pemerintah setempat juga mengatur jam malam, yang berlaku mulai pukul 22.00 hingga pukul 05.00.

PM India Dikecam

PM India Narendra Modi dikecam setelah menggelar kampanye politik meski gelombang kedua COVID-19 India melonjak tajam. Modi dan sejumlah menterinya menggelar kampanye politik menjelang pemilu daerah di Benggala Barat.

Sejumlah warga mengaku muak terhadap Modi, yang tetap menggelar kampanye politik yang dihadiri puluhan ribu orang di tengah pandemi COVID-19.

Selain terkait kampanye, Modi juga kena kecaman setelah membiarkan jutaan orang berkerumun saat festival keagamaan tetap digelar. Tagar #ResignModi dan #SuperSpreaderModi menjadi trending di Twitter sebagai bentuk kekecewaan terhadap Modi.

Kekurangan Pasokan Oksigen

Rumah sakit di Ibu Kota New Delhi nyaris kehabisan pasokan oksigen, bahkan kekurangan tempat tidur.

Menteri Kesehatan Negara Bagian Maharashtra, Rajesh Tope, mengatakan suplai oksigen sudah habis di rumah sakit. Hal ini, menurutnya, terjadi karena ada kebocoran tangki.

"Kebocoran terdeteksi pada tangki yang menyuplai oksigen untuk pasien. Suplai yang terganggu bisa dikaitkan dengan kematian pasien di rumah sakit," kata Rajesh seperti dikutip dari Reuters, Kamis (22/4/2021).

Melalui video yang ditayangkan televisi setempat, warga India rela antre untuk mengisi tabung oksigen demi keluarga atau kerabat mereka yang sakit.

Kekurangan oksigen juga memicu penjarahan tangki oksigen. Akibatnya, otoritas kesehatan terpaksa meningkatkan pengamanan di lokasi pengisian oksigen di India.

Sementara itu, jenazah korban COVID-19 India masih banyak yang tertumpuk di rumah duka dan krematorium.

Kerumunan India

Meningkatnya angka kasus COVID-19 India salah satunya disebabkan banyaknya kegiatan kerumunan. Salah satunya, festival keagamaan Kumbh Mela, yang dihadiri jutaan orang.

Dilansir dari AFP, sudah ada lebih dari 1.000 orang positif COVID-19 India setelah tidak diterapkannya protokol kesehatan di festival Kumbh Mela. Sementara itu, kampanye politik, pernikahan, pertandingan kriket juga digelar di tengah gelombang kedua COVID-19.

Anak-anak terinfeksi

Anak-anak juga mengembangkan gejala COVID-19 yang lebih serius setelah gelombang kedua melanda.

"Banyak kasus baru infeksi COVID-19 India pada anak-anak datang pada gelombang kedua ini dan jumlahnya jauh-jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," kata Dr Krishan Chugh, direktur dan kepala departemen pediatri di Fortis Memorial Research Institute, Gurgaon, dikutip dari CNBC TV.

Beberapa anak dilaporkan mengalami komplikasi yang lebih parah seperti sindrom inflamasi multisistem (MIS-C) - kondisi peradangan langka dengan demam terus-menerus. Biasanya terjadi 2-4 minggu setelah timbulnya COVID-19.

Seratusan WN India Masuk Indonesia

Setelah gelombang COVID India melonjak, Kemenkes mengungkap ada WN India yang masuk ke Indonesia. Jumlahnya lebih dari 100.

"Pertama, terkait ada kedatangan WNI dan WNA, kemarin sudah banyak warga India masuk ke Indonesia, banyak sekali," kata Kasubdit Karantina Kesehatan Ditjen P2P Kemenkes, dr Bengat, di Pekanbaru, Rabu (22/4/2021).

"Kami hari ini telah lakukan pemantauan perketat, karena informasi ada eksodus," tambahnya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Bandara Soekarno-Hatta Romi Yudianto memastikan warga negara India yang ramai-ramai datang ke Indonesia sudah melalui pengawasan ketat dan memenuhi prosedur keimigrasian. Romi mengatakan WN India yang datang itu ada 117 orang.

Romi mengungkapkan 117 WN India itu datang pada Rabu (21/4) malam menggunakan pesawat AirAsia QZ988. Di dalam pesawat itu ada 127 orang, yang terdiri atas 117 WN India dan 10 orang WNI.

Romi menjelaskan status 117 WN India itu macam-macam. Menurutnya, sebagian dari mereka ada yang sudah mendapat izin tinggal tetap di Indonesia. Dia juga mengatakan mereka juga menunjukkan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) dan Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP).

"Jadi macam-macam, ada yang sudah permanent resident di sini, pekerja di sini, ada juga dosen uji di sini. Ada, ada (KITAS/KITAP) sudah memenuhi persyaratan untuk dokumen keimigrasian," jelasnya.

Simak video 'Derita Warga India di Tengah 'Tsunami' Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)