Hehamahua Jelaskan Pemicu Analogi 'Musa-Firaun' Saat Ketemu Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 16 Apr 2021 16:47 WIB
Wakil Ketua Baleg DPR-RI Firman Subagyo, Anggota Pansel Calon Komisioner KPK Yenti Garnasih dan Mantan Penasehat KPK, Abdullah Hehamahua menjadi pembicara dalam diskusi dengan tema
Abdullah Hehamahua (Lamhot Aritonang/detikcom)

Seperti diketahui, Kantor Staf Presiden (KSP), Nahdlatul Ulama (NU) hingga Ali Mochtar Ngabalin mengkritik analogi Musa mendatangi Firaun. Teranyar, Ngabalin menilai sikap Abdullah Hehamahua tidak menunjukkan Islam yang rahmatan lil'alamin.

"Kalau Musa AS setelah dewasa merantau ke Madyan, setelah 10 tahun dia kembali ke Mesir dan dengan mukjizat sebagai seorang nabi. Nah, kawan ini lari ke Malaysia, Hehamahua ini lari ke Malaysia dan pulang menjadi sosok yang menyihir anak-anak muda menjadi radikal dan ekstrem. Itu makanya Abang tulis, dia pulang ke Malaysia--dalam tanda petik--sebagai teroris," ucap Ngabalin, kepada wartawan, Jumat (16/4).

"Saya keberatan (pertemuan TP3 dengan Presiden Jokowi diibaratkan Musa mendatangi Firaun). Makanya sosok seperti Abdullah Hehamahua yang begitu dahsyat, dia tidak menunjukkan Islam yang rahmatan lil'alamin," imbuhnya.

Ketua PBNU Robikin Emhas mengkritik keras analogi pertemuan TP3 dengan Jokowi bak Musa mendatangi Firaun. Menurut Robikin, presiden tidak boleh disamakan dengan Firaun.

"Nah, karena Presiden terpilih secara sah, maka keliru kalau menganalogikan pertemuan dimaksud seperti bertemu Firaun. Perlu ditegaskan, sebagai negara bangsa (nation state) Indonesia bukan negara kafir (darul kuffar). Demikian halnya, presiden dan pemerintah yang ada juga bukan thoghut. Karena itu tidak boleh mengasosikannya sebagai Firaun," ujar Robikin.

Tenaga Ahli Utama KSP, Donny Gahral Adian, meminta TP3 hati-hati dalam membuat perumpamaan. Menurut Donny, Jokowi tak pernah mendikotomikan pendukung atau oposisi.

"Hati-hati membuat ibarat, jangan sampai kebencian membutakan akal dan hati dalam memandang seorang pemimpin," sebut Donny.

"Jokowi sosok negarawan yang berjiwa besar, demokratis dan berkarakter. Beliau mau mendengar semua kelompok, baik pendukung maupun oposisi. Kepedulian beliau kepada rakyatnya tidak dibatasi sekat suku, agama, dan ras," lanjutnya.

Halaman

(zak/fjp)