Blak-blakan Napi Terorisme Bom Bali I

Ali Imron: Polisi Tak Usik Ulama Kecuali Lakukan Pidana

Deden Gunawan - detikNews
Minggu, 11 Apr 2021 07:28 WIB
Jakarta -

Narapidana kasus terorisme Bom Bali I, Ali Imron, menegaskan aparat kepolisian tidak akan pernah mengusik para ustaz, dai, dan ulama bila memang tidak melakukan tindak pidana. Ia mencontohkan, dirinya ditangkap, diadili, dan mendekam di penjara selama 18 tahun ini karena melakukan pengeboman di Bali pada Oktober 2002.

"Kita sebagai ustaz tidak pernah diusik polisi, bahkan ketika kami membantu jihad di Ambon dan Poso," kata Ali Imron dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Senin (5/4/2021).

Ia merasa perlu kembali mengungkapkan hal itu karena masih ada suara-suara yang menyatakan polisi memenjarakan dirinya karena profesinya sebagai ustaz dan pernah berjihad di Ambon, Poso, bahkan sebelumnya ke Afghanistan. Karena itu, kemudian muncul aksi-aksi teror dengan sasaran polisi dan kantor polisi sebagai tindak balasan.

"Itu ngawur. Ngapain polisi kita jadikan sasaran. Kalau ndak mau ditangkap, ya ndak usah neko-neko," kata Ali Imron.

Sebagai orang yang pertama kali melakukan teror bom di Indonesia, dia mengaku sangat menyesal. Ali Imron meratapi aksinya di Bali pada 12 Oktober 2002 karena dianggap telah menginspirasi berbagai teror kemudian.

"Saya merasa bersalah setiap kejadian bom di Indonesia. Karena saya salah satu yang mengobarkan semangat melakukan aksi jihad yang kami niatkan pada waktu itu," sesalnya.

Sebelum meledakkan bom di Bali yang menewaskan lebih dari 200 jiwa, dia mengakui pernah melakukan pemboman di gereja-gereja. Tapi bom yang dirakit sengaja berkekuatan kecil dan diletakkan di ruang kosong. Sebab, peledakan bom lebih dimaksudkan sebagai peringatan terhadap kaum nonmuslim terkait konflik Ambon dan Poso.

"Jadi, ketika saya lihat jemaahnya ternyata banyak perempuan dan anak-anak, ya bom diletakkan di ruangan kosong biar nggak banyak korban," kata Ali Imron.

Dia juga mengecam keras aksi teror yang dalam beberapa tahun terakhir ini dilakukan dengan melibatkan perempuan dan anak-anak. Padahal tak ada satu ulama pun yang membolehkan aksi jihad bersama perempuan, istri, dan anak-anak.

"Kalau dalam jihad yang benar, justru perempuan, anak-anak, dan orang tua dan lemah itu ada tempat perlindungan sendiri. Jadi mereka itu pakai adab atau fikih jihad apa?" ujarnya.

(deg/eva)