Ali Imron Ungkap Penyebab Polisi Jadi Target Serangan Teroris

Audrey Santoso, Deden Gunawan - detikNews
Senin, 05 Apr 2021 17:56 WIB
Jakarta -

Pelaku Bom Bali I Ali Imron mengatakan kejadian pertama polisi diserang kelompok teroris adalah pada 2005. Saat itu dirinya sudah berstatus tahanan kasus Bom Bali I.

"Penyerangan terhadap polisi ini dilakukan pertama, kalau tidak salah, itu ketika kami sudah masuk penjara. (Serangan ke polisi) ini terjadi di Seram Barat, Maluku. Pada waktu itu Pos Brimob diserang oleh kawan-kawan yang dulu sama-sama membantu jihad di Ambon," ucap Ali Imron kepada Blak-blakan detikcom di Polda Metro Jaya, Jumat (2/4/2021) kemarin.

Sependengaran Ali Imron, teman-temannya menyerang polisi karena marah dirinya dan beberapa pelaku teror lainnya ditangkap. Setelah Ali Imron menyadari perbuatannya meledakkan bom di Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, pada 2002 adalah kesalahan, Ali Imron mengaku berupaya memberi pemahaman kepada kelompoknya.

"Pada waktu itu ada yang menjawab 'karena teman-teman kami, ada ustaz kami yang ditangkap polisi'. Padahal waktu itu sampai sekarang ini saya selalu klarifikasi, sosialisasi kepada jihadis ini kenapa to kami ditangkap polisi. Selalu saya sampaikan, 'Kami ditangkap polisi karena melakukan pengeboman di Bali'," ujar Ali Imron.

"Bukan karena saya ini seorang muslim, bukan karena saya ini seorang ustaz, bukan karena saya guru, bukan karena saya mendakwahkan negara Islam," sambung dia.

Alasan polisi menangkap dirinya, sambung Ali Imron, penting untuk disampaikan kepada kelompoknya. Hal itu juga disampaikan Ali Imron kepada kakaknya, Mukhlas atau Ali Gufron dan Amrozi.

"Selalu saya sampaikan bahkan waktu itu ke kakak saya , Mukhlas sama Amrozi, karena ada fitnah-fitnah yang disampaikan ke keluarga bahwa penangkapan kami karena makarnya orang Kristen. Ini kan jauh," kata Ali Imron.

Ali Imron, yang sudah 18 tahun mendekam di sel tahanan, menuturkan tak setuju membiarkan isu liar penyebab dirinya ditangkap polisi menyebar tanpa klarifikasi. Diakui Ali Imron, sebelum dirinya ditangkap, dia tak pernah mengalami 'benturan' dengan aparat, baik saat dirinya berjihad di konflik Ambon maupun konflik Poso.

"Makanya saya selalu klarifikasi, jangan seperti itu. Karena, kalau kita buat isu seperti itu, tidak adil. Wong kita sebagai ustaz tidak pernah diusik polisi, bahkan ketika kami membantu jihad di Ambon sejak '99 saya sudah di sana, kemudian muncul jihad di Poso, kami ke sana, nggak ada apa-apa. Ini penting, supaya nggak ngawur," jelas Ali Imron.

"Sering saya katakan kita ini sebenarnya sudah impas. Kita sudah bom Bali, ratusan orang yang meninggal, kemudian ditangkap polisi. Itu kan sebenarnya sudah impas. Ngapain kita berdasar seperti itu dan akhirnya polisi kita jadikan sasaran. Kalau ndak mau ditangkap, ya ndak usah neko-neko," tutup Ali Imron.

(aud/fjp)