Wagub DKI Yakin Tugu Sepeda Rp 800 Juta Bakal Jadi Tempat Selfie Milenial

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 19:58 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan Tugu Sepeda di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (7/4/2021). 

Pembangunan tugu yang berbentuk satu buah ban sepeda berukuran raksasa tersebut sebagai pengingat momentum penggunaan sepeda yang masif digunakan masyarakat Ibu Kota di tengah pandemi COVID-19.
Proyek Tugu Sepeda di Jalan Sudirman, Jakarta (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Pembangunan proyek Tugu Sepeda senilai Rp 800 juta di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, menuai kritik. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengaku yakin Tugu Sepeda itu bakal jadi spot foto bagi kalangan milenial.

"Biayanya kan sudah dikaji dan diteliti oleh konsultan, tentu semua mengenai harga ada standar yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Jadi silakan nanti ditanya oleh konsultan, kenapa biaya Rp 800 juta? Tentu yang namanya kita harus menghargai daripada seniman, seni rupa kita yang membuat dan para konsultan tentu nanti akan jadinya akan baik, cantik, menarik, dan menjadi ikon di Jakarta, tempat selfie bagi teman-teman milenial," kata Riza di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (9/4/2021).

Riza mengatakan pihaknya telah mengalokasikan pendanaan terhadap seluruh sektor secara proporsional. Dia menyebut pembangunan Tugu Sepeda menggunakan dana dari pihak swasta.

"Ya semua kan ada alokasinya, pendidikan, sosial, kesehatan, olahraga, agama, semua dialokasikan tentu alokasinya sangat proporsional ya, kita memperhatikan sumber pendanaan dari mana nih, dari pihak ketiga bukan dari APBD, partisipasi dari swasta, dan kita mengalokasikan sesuai dengan peruntukannya, ini dana kurang lebih dari KLB," tuturnya.

Pemprov DKI Jakarta tengah membangun Tugu Sepeda di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Kritik kemudian datang. Salah satunya dari Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta yang menilai Pemprov DKI tidak mengerti skala prioritas anggaran dan kebijakan.

"Tugu itu dibangun untuk menghormati seseorang/sesuatu yang legendaris, dengan pengorbanan atau patriotiknya. Apa yang legendaris dari sepeda? Malah justru selalu minta diprioritaskan dan mengambil anggaran dari APBD, bukan meringankan, malah membebani. Akan rusak sebuah kota kalau dipimpin dengan cara-cara seperti ini, karena kepentingan sekelompok lalu dibuat tugu di ibukota dan di jalan utama/protokol," ujar anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak, kepada wartawan, Jumat (9/4).

Simak juga video 'Anies Baswedan Beri Izin Warga DKI Bukber, Ini Syaratnya':

[Gambas:Video 20detik]



Gilbert mengatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan harusnya meninggalkan warisan berupa kebijakan yang lebih prorakyat. Dia mengingatkan soal kebijakan gubernur-gubernur sebelum Anies.

"Kalau mau buat legacy adalah dengan kebijakan yang prorakyat seperti dilakukan para Gubernur sebelumnya. Masalah yang ada sekarang, lebih baik fokus jadi Gubernur dari pada terkesan seperti vlogger/blogger," katanya.

Kritik juga datang dari pejalan kaki. Pejalan kaki mengatakan pembangunan Tugu Sepeda kurang efektif.

"Efektif atau tidaknya menurut aku, aku lebih ke kurang efektif ya," ujar Tiara saat ditemui di Jalan Sudirman, Jakpus, Jumat (9/4).

Warga lainnya juga khawatir Tugu Sepeda bakal dijadikan titik kumpul para pesepeda yang ujungnya mengganggu mobilitas pejalan kaki. Tugu Sepeda itu sendiri berada di trotoar dan berbentuk lingkaran.

(whn/haf)