Renovasi Rumah panggung Kp Melayu Dikritik, Wagub DKI: Untuk Menghindari Banjir

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 00:24 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria. (Foto: Wilda/detikcom)
Jakarta -

Renovasi puluhan rumah rawan banjir di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur menjadi rumah bermodel panggung menuai kritikan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menjelaskan pembangunan ini dilakukan agar warga terhindar dari banjir.

"Itu kan untuk menghindari banjir. Kita lihat itu kan pendapat setiap pribadi anggota dewan, para pengamat, para ahli, setiap warga boleh memberikan pendapat," kata Riza saat dikonfirmasi, Selasa (6/4/2021).

Politikus Gerindra itu memastikan pihaknya terbuka dengan saran dari berbagai pihak. Terutama, dalam membahas lebih lanjut terkait penanganan banjir di Ibu Kota.

"Silakan nanti kita diskusi sama-sama terkait konsep penanganan banjir upamanya di Kebon Pala, Condet di Kalibata, silakan duduk. Kami sangat terbuka dengan masukan," jelasnya.

"Prinsipnya semua yang kami putuskan pak gubernur dan kita semua mendengarkan semua pihak dan para ahli dan kami diskuskikan dengan DPRD, tidak ada keputusan sepihak. Semua bersama DPRD," sambungnya.

Seperti diketahui, sebanyak 40 rumah di RT 13 RW 04, Kampung Melayu, yang akan direnovasi berkonsep rumah panggung. Namun, rencana ini menuai kritikan dari anggota DPRD DKI Jakarta.

Salah satunya, kritik datang dari Fraksi PDIP DKI Jakarta. Dia menilai pembangunan rumah yang berkonsep vertikal itu tidak akan menyelesaikan masalah banjir.

"Kalau cuma membangun panggung itu, penyelesaian sementara iya. Tapi nggak permanen penyelesaian itu. Contoh, misalkan daerahnya banjir, memang warga tidak kebanjiran, tapi toh warga nggak bisa ke mana-mana. Mereka membeli cabe nggak bisa juga kan. Apakah konsepnya akan seperti itu, kita tanya Pak Anies, apakah konsep penanganan banjir seperti itu?" Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta, Gembong Warsono kepada wartawan, Minggu (4/4/2021).

"Tetapi dalam konsep penataan kota itu tidak akan menyelesaikan masalah. Padahal yang harus kita kejar adalah bagaimana permukiman di daerah aliran sungai itu harus kita entaskan," sambungnya

Gembong mengatakan konsep penataan kota itu adalah menuntaskan persoalan banjir. Dia meminta agar Pemprov DKI membuat program penuntasan banjir secara jangka panjang untuk kesejahteraan warga.

Selain Gembong, Wakil Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi NasDem, Nova Harivan Paloh bingung dengan pembangunan rumah model panggung di lokasi rawan banjir di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Nova juga mempertanyakan efektivitas pembangunan rumah vertikal itu untuk mengatasi banjir.

"Saya juga belum tahu, belum ada tergambar sama saya. Ini kalau nggak salah ini model ya, modelnya baru di Jakarta Timur. Tapi kalau saya pikir lagi, ini Pemprov DKI punya program penataan kampung kumuh kalau nggak salah CAP (Community Action Plan), ada 200 penataan kampung kumuh. Esensinya salah seperti itu. Tapi kembali lagi sekarang ini memang program untuk masalah banjir ini terkait di kiri kanan aliran sungai itu kan adanya pembesaran kali itu kan yang paling utama," kata Nova kepada wartawan, Minggu (4/4/2021).

Nova mempertanyakan apakah pembangunan rumah panggung dengan kolong 3,5 meter akan efektif untuk menangani banjir. Dia menyebut jika sungai meluap, air tetap akan menggenangi kolong tersebut.

(dwia/dwia)