Eks Napiter Ungkap Beda Pola Terorisme JAD dan JI dalam Pelibatan Perempuan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 21:06 WIB
Jakarta -

Mantan narapidana kasus terorisme (napiter) Sofyan Tsauri menjelaskan pola terorisme yang dilakukan antara kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS dan Jamaah Islamiyah (JI) yang terafiliasi dengan Al-Qaeda. Sofyan menyebut keduanya memiliki perbedaan terkait pelibatan perempuan dan anak-anak.

"Iya betul sekali, ini perbedaan antara JI yang terafiliasi dengan Al-Qaeda dan JAD yang terafiliasi dengan kelompok ISIS. Jadi memang perbedaannya kalau di JI tidak pernah melibatkan wanita atau anak-anak sebagai media dalam melakukan amaliyah jihad," kata Sofyan seperti ditayangkan d'Rooftalk bertema 'Perempuan Dalam Jerat Terorisme', Selasa (6/4/2021).

"Berbeda sekali dengan kelompok kelompok semacam JAD, yang dalam banyak praktiknya akhir-akhir ini dalam beberapa tahun mereka banyak melibatkan wanita dan anak-anak untuk melakukan amaliyah yang biasa disebut amaliyah jihad," lanjutnya.

Sofyan menjelaskan pola terorisme ini menjadi berbeda karena kelompok JAD berafiliasi dengan ISIS. Menurutnya, ISIS memang kerap menjadikan wanita dan anak-anak tidak hanya sebagai objek kekerasan, tapi juga subjek pelaku terorisme.

"Mereka juga memang libatkan wanita-wanita bahkan wanita bukan hanya sebagai objek sasaran daripada kejahatan paham ini, tapi wanita dan anak-anak juga jadi subjek yang jadi para pelaku," ucap Sofyan.

Lebih lanjut, Sofyan mengatakan wanita yang biasa direkrut untuk menjadi teroris oleh kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan ISIS biasanya jauh lebih militan daripada teroris laki-laki.

"Wanita dan anak-anak juga jadi subjek yang jadi para pelaku tidak kalah militan, bahkan lebih dahsyat, lebih militan dari laki-lakinya. Dalam banyak kasus di JAD di ISIS ini itu mereka sangat proaktif dan agresif," ujar pria yang pernah bersentuhan langsung dengan pimpinan JAD ini.

Tak hanya itu, Sofyan mengungkap wanita-wanita yang menjadi teroris pada kelompok yang berafiliasi dengan ISIS ini juga memiliki akidah yang kacau dalam berkeluarga. Dia mengatakan bahkan ada fenomena ada perempuan ingin menceraikan suami yang menolak berbaiat kepada ISIS.

"Bahkan mereka tidak melakukan fasakh (cerai, red) ke suaminya dan suaminya dianggap cacat akidahnya karena tidak berbaiat kepada kelompok ISIS, ini sangat banyak dan sangat terjadi, bahkan sampai tidak pernah mau menceraikan suaminya, tapi istrinya sudah lakukan pernikahan dengan beberapa laki-laki lain, jadi sangat kacau akidah, dan jaman sejak jaman fasik Islam sudah ada persoalan ini," ungkapnya.

Seperti diketahui, keterlibatan wanita dalam aksi terorisme mencuat beberapa hari terakhir ini. Sejumlah kejadian, seperti bom bunuh diri di Makassar dan penembakan di Mabes Polri, melibatkan wanita sebagai pelaku terorisme.

Tonton video 'Blak-blakan Ali Imron: Jadi Teroris Itu Cuma Butuh Dua Jam':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/jbr)