Perempuan Penyendiri-Aktif di Medsos Lebih Rentan Terpapar Radikalisme

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 20:42 WIB
Jakarta -

Keterlibatan perempuan dalam aksi teror bom bunuh diri menjadi sorotan. Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi mengatakan kasus penyerangan Zakiah Aini (25) ke Mabes Polri karena teradikalisasi lewat media sosial.

"Kalau kasus yang penyerangan di Mabes Polri, saya sepakat kita melihatnya dia mungkin teradikalisasi oleh konten media sosial," ujar Siti Aminah seperti ditayangkan d'Rooftalk bertema 'Perempuan Dalam Jerat Terorisme', Selasa (6/4/2021).

Siti Aminah menyebut terdapat beberapa faktor yang membuat seorang perempuan teradikalisasi. Dia menyebut persoalan individu serta faktor kesehatan mental bisa menjadi faktor pendorong seorang perempuan teradikalisasi.

"Faktor penarik, faktor pendorong, dan individu. Nah faktor individu tadi seperti yang sudah disampaikan, rasa kesepian. Juga di sini berperan faktor kesehatan mental," kata Siti Aminah.

Menurutnya, gangguan kesehatan mental bisa dideteksi dengan adanya sikap murung, kesepian, hingga faktor patah hati. Sikap ini disebut menjadi awal mudahnya seorang perempuan terpapar.

"Dilihat dari konteks yang Mabes Polri, sebenarnya kalau kita aware sama kesehatan mental semua orang kita bisa mendeteksi orang yang mengalami kesehatan mental misalnya murung, ada masalah, galau, patah hati," kata Siti Aminah.

"Maka itu menjadi awal untuk terpapar ide-ide kekerasan atau ide-ide yang sepertinya akan memberikan jalan keluar dari masalah yang dia alami," sambungnya.

Jadi, menurutnya, perempuan yang mengalami gangguan kesehatan mental dan kerap beraktivitas di dunia maya lebih mudah terpapar. Dibandingkan dengan perempuan yang memiliki kegiatan pertemuan berkelompok.

"Jadi betul, perempuan yang mengalami ketidaksehatan mental atau mengalami masalah kesepian seperti buruh migran, ibu rumah tangga yang lebih banyak beraktivitas di dunia maya lebih mudah terpapar dibandingkan memiliki pertemuan-pertemuan dengan kelompok atau kegiatan lainnya," tuturnya.

Sedangkan perempuan yang melakukan aksi bom bunuh diri bersama pasangan seperti yang terjadi di Makassar tidak mengambil keputusan sendiri. Melainkan keputusan aksi ditentukan oleh suami.

"Kalau yang di Makassar kan itu suami istri ya, nah kita bisa mengatakan pengambilan keputusan perempuannya itu kan pasti ditentukan oleh suaminya, sehingga mereka bersama-sama melakukan aksi itu," pungkasnya.

Simak juga video 'Data BNPT: Perempuan Lebih Berpotensi Terpapar Radikalisme':

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/jbr)