Survei SMRC: Pendukung AHY-RK Cenderung Takut Penangkapan Semena-mena Aparat

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 06 Apr 2021 17:22 WIB
Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad,
Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad (Foto: dok. screenshot YouTube SMRC)
Jakarta -

Lembaga survei SMRC merilis survei terkait isu masyarakat takut penangkapan semena-mena aparat hukum. Hasilnya sebanyak 32 persen responden menyatakan selalu atau sering takut terhadap isu penangkapan semena-mena oleh aparat penegak hukum.

Survei tersebut dilakukan pada rentang 28 Februari hingga 8 Maret 2021. Survei yang dilakukan terhadap 1.064 responden dengan metode multistage random sampling, margin of error kurang lebih 3,07 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan asumsi simple random sampling. Responden terpilih dilakukan secara tatap muka. Kemudian dilakukan quality control dengan mendatangi kembali 20 persen responden yang sudah diwawancarai.

SMRC menanyai responden dengan pertanyaan terkait isu penangkapan semena-mena aparat oleh aparat hukum. Adapun pertanyaannya berbunyi '
'Apakah masyarakat sekarang takut terhadap penangkapan semena-mena oleh aparat hukum'. Hasilnya sebanyak 32 persen responden yang menyatakan takut terhadap penangkapan semena-mena oleh aparat penegak hukum.

Hasilnya responden menjawab:

1. 5,4 persen responden menjawab selalu takut
2. 26,5 persen responden menjawab sering takut
3. 30,4 persen responden menjawab jarang takut
4. 29,4 persen responden menjawab tidak pernah takut
5. 8,4 persen responden menjawab tidak tahu atau tidak jawab

"Ada 32 persen warga yang menyatakan selalu atau sering masyarakat sekarang takut terhadap penangkapan semena-mena oleh aparat hukum. Yang menyatakan jarang 34,4 persen, yang menyatakan tidak pernah 29,4 persen," ujar Manajer Program SMRC, Saidiman Ahmad, dalam rilis survei bertajuk 'sikap publik nasional terhadap FPI dan HTI', yang disiarkan di YouTube SMRC, Selasa (4/6/2021).

Dinilai trendnya pada survei Juli 2009 responden yang menyatakan selalu/sering takut terhadap isu penangkapan semena-mena sebanyak 23 persen, saat ini mengalami kenaikan menjadi 32 persen.

Survei SMRC itu menyebut basis massa pemilih partai yang paling banyak menjawab takut terkait isu penangkapan semena-mena cenderung dari massa pendukung PKS 58 persen, diikuti PAN 55 persen. Sedangkan dilihat dari basis pemilih calon presiden yaitu massa pendukung AHY hingga pendukung Anies juga cenderung takut terhadap isu penangkapan semena-mena.

"Untuk isu kedua, tentang penangkapan semena-mena bahwa yang paling banyak mempersepsi negatif tentang isu ini juga datang dari massa pendukung AHY (47%), Ridwan Kamil (45%) dan Pak Anies Baswedan (43%)," ujarnya.

Selanjutnya SMRC juga menanyai pertanyaan 'apakah masyarakat sekarang takut ikut berorganisasi. Kemudian hasilnya 3,1 persen menjawab selalu, 16,6 persen menjawab sering takut, 34,5 persen menjawab jarang takut, 36,4 menjawab tidak pernah takut.

Berdasarkan survei SMRC, massa pemilih Tri Rismaharini (41%) cenderung mempersepsi bahwa masyarakat selalu atau sering takut berorganisasi. Kemudian diikuti basis massa Sandiaga Uno (31%), paling sedikit pemilih Ganjar Pranowo yang mempersepsikan takut berorganisasi (14%).

SMRC juga menanyai 'apakah masyarakat takut melaksanakan kegiatan agama'. Hasilnya masyarakat yang menyatakan selalu 1,5 persen, sering 9,3 persen, jarang 25,4 tidak pernah 56,8 persen.

"Kalau dilihat surveinya pada survei Juli 2009 hanya ada 7 persen warga yang menyatakan masyarakat sekarang takut melaksanakan ajaran agama, sekarang jumlahnya menjadi 11 persen," katanya.

Survei SMRC menilai basis massa AHY (20%) cenderung mempersepsikan masyarakat sekarang takut melaksanakan ajaran agama.

"Untuk isu masyarakat takut melaksanakan agama ada 20 persen massa pemilih AHY yang menyatakan masyarakat sekarang sering atau selalu takut melaksanakan ajaran agama," ujarnya.

"Kalau dinilai dari penilaian terhadap kinerja Jokowi secara umum ada kecenderungan bahwa warga yang menilai tidak puas terhadap kinerja Presiden relatif cenderung menyatakan masyarakat sekarang mengalami penurunan kebebasan sipil dilihat dari masyarakat yang takut secara politik, penangkapan semena-mena, takut ikut berorganisasi dan takut menjalankan agama," ujarnya.

(yld/tor)