Cerita Napi Korupsi: Awal Masuk Penjara Anak Masih SMP, Sekarang Punya Cucu

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 16:27 WIB
Suasana di dalam Lapas Sukamiskin (Luqman-detikcom)
Suasana di dalam Lapas Sukamiskin (Luqman/detikcom)
Bandung -

Narapidana kasus korupsi penyalahgunaan kredit yang merugikan negara Rp 11 miliar, Beben Sofyar, menceritakan soal pengalamannya 14 tahun menghuni Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Beben mengaku mendapat pelajaran berharga.

"Iya (sudah 14 tahun). Ya pengalaman paling berharga kesabaran ya, Pak, ya. Kalau Bapak lihat di film-film itu menghitung hari per hati itu begini ya, itu paling," ujar Beben di Lapas Sukamiskin, Jalan AH Nasution, Bandung, Rabu (31/3/2021).

Beben bersama dua narapidana lainnya, Ihwan Agus Salim dan terpidana kasus korupsi e-KTP, Sugiharto, mengikuti penyuluhan antikorupsi dari KPK. Total, ada 25 narapidana yang ikut kegiatan yang digelar untuk narapidana asimilasi dan yang akan habis masa hukumannya.

Kembali ke cerita Beben. Dia mengaku mengalami beberapa perubahan selama mendekam di penjara. Beben mengaku bisa lebih taat beribadah.

"Menyesal pasti, umur berjalan terus tentu ambil hikmahnya karena ada yang saya dapatkan di sini yang mungkin tidak ada di luar gitu. Contohnya saya habis Al-Qur'an, bisa ngaji. Kalau di luar mungkin kita buat ngaji atau salat saja susah," ujarnya.

Selain itu, Beben juga menceritakan soal anaknya yang saat dia masuk penjara masih SMP. Kini, katanya, anaknya itu sudah menikah dan sudah memiliki anak.

"Pas terakhir (saya) masuk, anak saya masih SMP. Sekarang (saya) sudah punya cucu. Bukan nggak pernah melihat, kan kunjungan baru setahun ini nggak ada. Saya masih ingat kunjungan terakhir 18 Maret 2020, setelah itu kan nggak ada kunjungan. Mudah-mudahan kunjungan cepat dibuka kembali, sudah sehat kembali," ucapnya.

Beben menyambut baik kegiatan penyuluhan antikorupsi yang diselenggarakan KPK. Beben mengaku siap menjadi agen antikorupsi setelah menghirup udara bebas nanti.

"Saya lihat seperti manusia biasa perlu diingat-ingat kembali kami di sini, bahwa seperti pertanyaan-pertanyaan motivasi oleh motivator ini buat semangat-semangat kami kembali. Apalagi ada pertanyaan tadi ini yang hadir kami-kami yang mau pulang, kenapa kita-kita ini saja yang hadir. Ini kita yang sudah melalui dua pertiga (masa penjara) dan siap pulang terjun ke masyarakat," jelasnya.

Narapidana korupsi lain, Ihwan, bicara soal syarat mendapatkan asimilasi dan berpartisipasi dalam penyuluhan antikorupsi. Dia menyebut narapidana korupsi harus menyelesaikan kewajibannya, salah satunya membayar denda.

"Kan nanya ada syarat khusus nggak, untuk tindak pidana tipikor karena PP 99 yang dirancang zaman Pak Denny Indrayana kan selama dia nggak bayar denda nggak ada itu, tidak ada asimilasi, hilang hak-hak semuanya. Kalau tipikor, kalau dia ada hak beban atau denda ada uang pengganti selama itu tidak ada, tidak ada itu asimilasi. Iya, kewajibannya dulu dipenuhi," jelasnya.

(run/haf)