Daftar Pelaku Keluarga dalam Bom Bunuh Diri: Bomber Surabaya hingga Makassar

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 11:06 WIB
Ilustrasi Fokus Bom Bunuh Diri di Medan (Luthfy Syahban/detikcom)
Foto Ilustrasi Bom Bunuh Diri (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dilakukan oleh pasangan suami istri (pasutri). Keduanya baru membangun mahligai rumah tangga enam bulan yang lalu. Selain mereka, ada beberapa keluarga lain di Indonesia yang menjadi pelaku bom bunuh diri.

Terbaru, aksi bom bunuh diri terjadi di depan Gereja Katedral Makassar terjadi pada Minggu (29/3/2021) seusai Misa Minggu Palma.

Pelaku tewas di lokasi dan 20 warga terluka. Kedua pelaku merupakan seorang pasangan suami istri. Pelaku merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

Keluarga yang memilih menjadi pelaku bom bunuh diri bukan hanya di Makassar. Keluarga yang terlibat aksi bom bunuh diri juga pernah ada di Surabaya, WNI di Filipina, hingga Medan. Berikut ini daftarnya:

1. Keluarga Dita dan Keluarga Tri Murtiono

Rentetan bom yang di sejumlah gereja di Surabaya pada 2018 juga dilakukan oleh JAD. Aksi ini dilakukan oleh dua pasutri.

Minggu, 13 Mei 2018, pukul 06.30 WIB, Gereja Katolik Santa Maria menjadi sasaran bom. Gereja itu terletak di Jalan Ngagel Madya 01 Surabaya. Yusuf (18) dan Firman (16) berboncengan mengendarai sepeda motor masuk ke halaman Gereja Santa Maria dan meledakkan bom yang mereka bawa. Dua pelaku dan lima masyarakat tewas.

Pukul 07.15 WIB, Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jl Diponegoro Surabaya menjadi sasaran bom. Pelakunya adalah Puji Kuswati (43) yang mengajak dua putrinya berinisial Famela (9) dan Firman (12). Mereka tewas. Tak ada orang lain yang jadi korban tewas di titik ledakan ini.

Pukul 07.53 WIB, bom diledakkan oleh Dita Oepriarto (48) di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Dita menuju lokasi ini, Jl Arjuna Surabaya, usai menurunkan Puji dan kedua putrinya di GKI di Jl Diponegoro. Toyota Avanza Dita ditabrakkannya ke gereja itu. Tujuh orang tewas, plus satu pelaku yakni Dita juga tewas.

Bila ditotal, bom keluarga Dita itu menewaskan 18 orang, terdiri dari enam pelaku dan 12 masyarakat. Pada 1 Juni 2018, satu orang yang menderita luka bakar 90% akibat bom Gereja Pantekosta meninggal dunia.

Senin, 14 Mei 2018, pukul 08.50 WIB, bom meledak di Polrestabes Surabaya, Jl Sikatan. Pelakunya adalah keluarga Tri Murtiono (50) bersama istrinya Tri Ernawati (43) dan ketiga anaknya. Hanya satu anak yang tak tewas.

Kala itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkap teror bom di tiga gereja di Surabaya tersebut dilakukan oleh satu keluarga. Satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak ini tak lepas dari jaringan JAD-JAT.

"Pertanyaan ini kelompok mana? Tidak lepas dari kelompok JAD JAT yang merupakan pendukung utama ISIS di Indonesia," kata Tito dalam konferensi pers di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5/2018).

"Di Indonesia JAD dipimpin Aman Abdurahman yang ditahan di Mako Brimob, Kemudian kelompok pelaku satu keluarga terkait sel JAD yang ada di Surabaya. Dia ada lah ketuanya Dita ini," ungkap Tito.

2. Keluarga GI

Pasangan suami istri (pasutri) nekat menerobos Mapolres Indramayu. Pelaku melemparkan sebuah panci berisi bahan peledak. Beruntung bom panci itu tak meledak dan menimbulkan banyak korban.

Peristiwa penyerangan tersebut terjadi pada Minggu (15/7/2018) dini hari sekitar pukul 02.35 WIB. Pasutri tersebut datang menggunakan sepeda motor matic. Gerak-gerik keduanya diketahui polisi jaga.

"Personel penjagaan Polres Indramayu lebih dulu melihat dua orang tak dikenal berboncengan hendak masuk ke arah pintu penjagaan," ujar Kabag Pensat DIv Humas Polri Kombes Yusri Yunus kepada detikcom via pesan singkat.

Pasutri tersebut melaju cepat menerobos masuk pintu yang sudah tertutup pagar. Keduanya masuk sambil mengejar anggota berseragam.

"Namun dengan sigap, serangan dari orang yang dikenal itu dapat dihindari," tutur Yusri.

Polisi pun menangkap pasutri berinisial GI dan NH tersebut.