DetikNews
Senin 13 Mei 2019, 11:35 WIB

Mengenang Satu Tahun Tragedi Bom Surabaya

Hilda Meilisa - detikNews
Mengenang Satu Tahun Tragedi Bom Surabaya Lokasi bom di gereja Surabaya/File: detikcom
Surabaya - Hari ini tepat satu tahun lalu, suasana di jalanan Surabaya mendadak sunyi. Hanya samar suara ambulance sesekali terdengar memecah jalanan. Sementara itu, teriakan ketakutan menggema di tiga gereja yang menjadi lokasi meledaknya bom Surabaya.

Tentu masih melekat di ingatan warga Surabaya, tragedi berdarah yang membuat puluhan orang meninggal dan luka. Bahkan peristiwa ini dianggap peristiwa luar biasa mengguncang Surabaya sepanjang tahun 2018.

Peristiwa ini bermula saat pagi yang cerah di Lapangan Mapolda Jatim. Saat itu, sebagian masyarakat sedang berkumpul menggelar istighasah untuk mendoakan keselamatan dan kelancaran Pilkada Jatim. Selawat dan doa pun terlantun syahdu dari puluhan ribu masyarakat yang hadir.

Agenda doa bersama ini juga mendoakan lima polisi korban kerusuhan napi terorisme di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Mantan Gubenur Soekarwo, Mantan Kapolda Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin, Mantan Pangdam V/Brawijaya Mayjend TNI Arif Rahman hingga beberapa kiai di Jatim hadir dan memimpin doa di atas panggung.


Bom meledak di Surabaya membuat kendaraan hangus/Bom meledak di Surabaya membuat kendaraan hangus/File: detikcom

Di sela alunan merdu selawat, beberapa raut wajah petinggi yang berada di panggung terlihat gusar. Sontak, mantan Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan langsung turun dari atas panggung. Dengan tergesa-gesa, Rudi langsung menaiki mobilnya dan berlalu dengan cepat.

Benar saja, kabar meledaknya bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela mulai merebak. Saat itu, sekitar pukul 06.30 WIB, umat Nasrani tengah beribadah di gereja di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Tak berselang lama, suara ledakan bom juga terdengar di gereja lainnya. Sekitar pukul 07.15 WIB, ada ledakan serupa di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Surabaya yang berlokasi di Jalan Diponegoro. Belum genap satu jam tepatnya pukul 07.53 WIB, ledakan baru muncul di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuna.

Diketahui, pelakunya adalah satu keluarga yang dipimpin sang ayah, Dita Oepriarto (48). Dita menjalankan aksi biadab ini bersama istrinya bernama Puji Kuswati (43), dua anak perempuannya yang berinisial FS (12) dan FR (9), serta dua anak laki-lakinya berinisial YF (18) dan FA (16).


Jokowi didampingi Wiranto saat jumpa pers soal bom Surabaya/Jokowi didampingi Wiranto saat jumpa pers soal bom Surabaya/File detikcom

Dita pun membagi anggota keluarganya dalam tiga aksi. Aksi pertama dilakukan Dua putra laki-laki Dita, yakni YF (18) dan FA (16) yang berboncengan mengendarai sepeda motor. Keduanya mencoba masuk ke halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela dan meledakkan diri di halaman gereja.

"Yang meninggal dunia tujuh orang, terdiri dari dua pelaku dan lima dari masyarakat," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Markas Polda Jawa Timur, Surabaya, Senin (14/5/2018).

Aksi kedua, dilakukan istri Dita, Puji Kuswati (43) dengan kedua anak perempuannya FS (12) dan FR (9). Dita diketahui membawa anggota keluarganya dengan mobil, lalu ketiganya diturunkan di GKI Diponegoro dan meledakkan diri hendak memeluk petugas keamanan sembari memaksa masuk gereja.

Sementara usai menurunkan istri dan dua putrinya, Dita melanjutkan aksinya di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jalan Arjuna. Dita pun menabrakkan mobilnya untuk memaksa masuk ke gereja sembari meledakkan diri.


Bom meledak di gereja Surabaya/Bom meledak di gereja Surabaya/ Foto: deni

Bila ditotal, bom keluarga Dita itu menewaskan 18 orang. Terdiri dari enam pelaku dan 12 masyarakat. Dan pada 1 Juni 2018, satu orang yang menderita luka bakar 90% akibat bom Gereja Pantekosta meninggal dunia.

Kejadian bom Surabaya ini pun mendapat atensi baik dari dari dalam negeri atau dunia Internasional. Tak terkecuali Presiden Jokowi yang pascatragedi, langsung ke Kota Pahlawan didampingi Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

"Saya kadang tidak habis pikir. Kemarin saya lihat langsung, (lokasi) pelaku bom di tiga lokasi. Dua anak (perempuan-red) kecil umur 9 tahun dan 11 tahun. Diberi sabuk bom diantar oleh ayahnya dan turun bersama ibunya dan kemudian meledakkan diri di depan gereja," kata Jokowi di Jakarta, 14 Mei 2018 lalu.


Korban bom Surabaya bergelimpangan/Korban bom Surabaya bergelimpangan/ Foto: Istimewa

Lalu, operasi-operasi antiterorisme dilancarkan. Sehari kemudian, Kapolri menyatakan bom yang diledakkan di tiga gereja Surabaya berjenis triacetone triperoxide (TATP) yang termasuk berkekuatan ledak tinggi (high explosive).

Selain itu ada pula bom yang meledak di Sidoarjo, tepatnya di Rusunawa Wonocolo. Semuanya berjenis TATP. Bom jenis ini sering digunakan ISIS di Suriah dan Irak.
(hil/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed