Round-Up

Saling Serang Demokrat vs Kubu Moeldoko soal Konpers dari Hambalang

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 07:33 WIB
Jakarta -

Saling serang terjadi antara Demokrat kubu Moeldoko dengan Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Saling serang terjadi lantaran kubu Moeldoko mengadakan konfrensi pers di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Konfrensi pers itu dilaksanakan Kamis (25/3) siang kemarin sekitar pukul 13.00 WIB. Kegiatan itu digelar di area Hambalang Sport Center yang mangkrak dengan bermodalkan tenda dan diiringi hujan deras saat itu.

Awalnya, kubu Moeldoko pun mengaku memiliki alasan tersendiri melakukan konfrensi pers di lokasi tersebut. Salah satu penggagas KLB PD, Darmizal, menyampaikan Hambalang merupakan kawasan bersejarah bagi Partai Demokrat.

Dia lantas menyerang Partai Demokrat dengan mengungkit salah satu sejarah yang pernah terjadi yakni kasus korupsi proyek Hambalang. Beberapa kader PD memang terjerat kasus tersebut.

"Terkait kegiatan, benar kita adakan di Hambalang. Kita konpers di tempat yang paling bersejarah dan penuh paradoks. Satu sisi 'katakan tidak, tapi sisi lain lakukan korupsi secara berjemaah', termasuk proyek Hambalang," katanya.

Darmizal menyebut Hambalang merupakan kisah sedih Partai Demokrat. Dia pun berharap persoalan Hambalang bisa segera diselesaikan.

"Semoga Hambalang jadi halaman berikutnya dalam penuntasan bongkar kisah sedih masa lalu tersebut," ujarnya.

Dia lantas juga menyinggung terkait kudeta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas Anas Urbaningrum dari posisi Ketua Umum PD. Dia menilai kudeta yang dipaksakan saat itu terjadi lantaran persoalan Hambalang.

"Hambalang dipilih sebagai tempat konferensi pers karena memiliki nilai sejarah bagi Partai Demokrat. Melalui Hambalang inilah SBY pertama kali mengkudeta Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Karena kudeta melalui cara politik gagal, SBY melakukan kudeta melalui cara hukum yang sangat terkesan dipaksakan," tuturnya.

Serangan tak berhenti ke pihak Partai Demokrat. Darmizal lagi-lagi menyinggung adanya seseorang yang berada di puncak tapi tidak pernah mendaki.

SBY pun tidak luput kembali diserang oleh Darmizal. Dia menyinggung nama pepo saat konfrensi pers tersebut.

"Ada yang sudah di puncak tapi tidak pernah mendaki, sehingga tidak pernah tahu jalan turun dan terpaksa Pepo yang mengantarkan perbaikan di bawah. Karena hanya Pepo yang tahu jalan turun," kata Darmizal.

Tak berhenti sampai di situ, Darmizal lagi-lagi menyinggung kasus Hambalang. Dia mengaku ingin agar kebusukan terkait Hambalang yang menyebabkan PD tak berjaya lagi diungkap saat ini.

"Kita ingin ungkap kenapa bersejarah di sini. Karena kita ingin bahwa satu ketika, kalau kepala ikan itu disimpan di mana pun, pasti busuknya akan terungkap. Lebih baik kita mengungkap di awal-awal mumpung ada kesempatan untuk memperbaiki. Daripada nanti busuknya sudah menyebar ke mana-mana. Jadi oleh karena itulah, di mana sumber ikan itu, yaitu di sini sumber kebusukannya seperti disampaikan Bang Max tadi," ujarnya.

"Karena survei terakhir sebelum Anas Urbaningrum ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Partai Demokrat berada pada puncak elektabilitasnya, dan Anas berada pada puncak popularitasnya. Itu tidak bisa kita ingkari. Nah, peristiwa Hambalang inilah menjadi catatan sejarah yang harus kita ungkap siapa sebenarnya yang bermasalah," tambahnya.

Dia pun mendorong agar Presiden Joko Widodo melanjutkan proyek Hambalang yang sempat terhenti. Dia menyebut PD pimpinan Moeldoko tidak ingin banyak 'candi' di proyek Hambalang.

"Jadi intinya beberapa hari yang lalu, Bapak Presiden Jokowi sudah mewacanakan untuk melanjutkan proyek Hambalang. Jadi Partai Demokrat pimpinan Bapak Moeldoko mendorong kepada Bapak Presiden untuk melanjutkan proyek Hambalang itu agar tidak terjadi candi-candi Hambalang di belakang-belakang kita ini, gitu," tuturnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5