3 Orang Tewas di Hutan Malut Diduga Dipanah hingga Dibacok Suku Togutil

Jabbar Ramdhani - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 17:21 WIB
Ilustrasi Balapan Liar
Ilustrasi garis polisi (dok. detikcom)
Ternate -

Tim gabungan telah mengevakuasi korban ketiga yang tewas di hutan Patani Timur, Halmahera Tengah, Maluku Utara (Malut). Tim gabungan bekerja keras mengevakuasi jasad korban yang diduga diserang suku Togutil.

"Hari ini evakuasi korban sudah terlaksana semua. Almarhum Risno sudah dievakuasi kemarin. Itu lokasinya jauh sekali, jalan kaki itu 10 jam perjalanan," kata Kabid Humas Polda Malut Kombes Adip Rojikan saat dihubungi detikcom, Kamis (25/3/2021).

Dua korban tewas lainnya diketahui bernama Anto dan Ucu. Penyerangan tersebut terjadi di Desa Masure, Kecamatan Patani Timur, Halmahera Tengah, pada Sabtu (20/3). Tim gabungan yang mengevakuasi terdiri atas Polda Malut, Polres Halmahera Tengah, Satgas Pengamanan Daerah Rawan (Pamrahwan), hingga masyarakat.

Saat dievakuasi, kondisi korban sulit dikenali akibat luka terkena senjata tajam yang cukup berat. Selain itu, korban sudah meninggal lebih dari tiga hari.

"Korban ditemukan kena senjata tajam dan dalam kondisi rusak. Jadi memang luka panah. Bukan satu saja, tapi beberapa bagian. Yang digunakan ada panah, ada senjata tajam juga," ujar dia.

Dalam peristiwa penyerangan tersebut, ada empat orang lain yang berhasil menyelamatkan diri. Keempat korban sudah pulang setelah sempat dirawat di Puskesmas Tepelo.

Keempat korban bernama Martawan (45), Jahid Hamid (40), Anto Latani (45), dan Kopda Zen Tehuayo (35) masih mengatasi trauma atas penyerangan tersebut. Begitu kondisi fisik dan psikis mereka pulih, polisi akan kembali memintai keterangan untuk mengusut kasus penyerangan ini.

"Tadi saya komunikasi ke Kapolres, katanya sudah di rumah. Namun masih ada trauma di wajahnya. Ketika dilakukan pemeriksaan, masih ada kendala," ujar Kombes Adip.

"(Alami trauma) kurang-lebih begitu (akibat penyerangan yang dialami). Kan kronologinya ketika mereka beraktivitas ada yang memanah, lari, lalu ada rekannya yang tidak bernyawa. Otomatis ada rasa perasaan yang bercampur," tambahnya.

Disebutkan, sebelumnya ketujuh orang tersebut hendak berkebun. Namun kemudian mereka diserang.

Polisi berupaya menangani kasus lewat aturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, dia mengatakan, kepolisian menangani kasus ini secara hati-hati karena suku Togutil juga bagian dari masyarakat.

"Kita dalami posisi kasusnya seperti apa. Karena ketika kita ingin mengedepankan adat, perlu diantisipasi agar adatnya yang terlalu ditonjolkan, lalu hukum positif dibelakangkan," ujar Kombes Adip kemarin.

"Dari kejadian ini, jadi atensi bagaimana kita lakukan langkah agar suku ini tidak jadi ancaman bagi masyarakat atau suku itu sendiri. Dan kita harus bijak karena itu kearifan lokal dan bagian dari masyarakat juga," imbuhnya.

(jbr/idh)