Zulhas Bicara Demokrasi Culas, Singgung Capres-Cawapres Kalah Jadi Menteri

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 20:24 WIB
Ketum PAN Zulkifli Hasan.
Ketum PAN Zulkifli Hasan. (Rahel/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan pidato kebangsaan. Dia bicara soal demokrasi culas hingga menyinggung capres dan cawapres yang kalah dalam Pilpres 2019 kini menjadi menteri di kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pidato itu ditayangkan di YouTube Zulkifli Hasan, Rabu (24/3/2021). Dia awalnya bicara tentang kebijakan ekonomi yang cenderung liberal dan pro terhadap asing.

"Di sisi lain, lobi-lobi kelompok kanan untuk melakukan liberalisasi ekonomi dan politik juga sangat terasa. Pemberlakuan omnibus law, undang-undang penanaman modal asing, dan skema ekonomi nasional yang terlalu pro pada investasi asing serta utang luar negeri juga terus mengancam kita. Dengan mendorong perubahan kultur sosial politik kita yang juga menjadi cenderung liberal," kata Zulhas.

Dia kemudian bicara soal demokrasi yang dianggapnya jauh dari musyawarah mufakat. Zulhas menyebut Pilkada hingga Pilpres menunjukkan demokrasi culas alias curang dan hanya berpikir menang.

"Termasuk cara kita dalam menyelenggarakan demokrasi yang kian meninggalkan semangat musyawarah mufakat sebagaimana diamanatkan sila ke-4 dalam Pancasila. Pilkada 2017, 2018, Pileg dan Pilpres 2019 serta Pilkada serentak 2020 yang telah lalu telah menunjukkan kepada kita karakter demokrasi yang culas dan hanya berpikir menang-menangan," ujarnya.

"Politik elektoral berubah sedemikian rupa menjadi semata ajang untuk memperebutkan kekuasaan belaka, berebut lobi, dan pengaruh dengan agenda berbeda-beda. Tak peduli masyarakat terpolarisasi secara hebat, bahkan muncul benih-benih permusuhan dan kebencian yang ongkos sosial budayanya sangat tinggi," lanjut Zulhas.

Wakil Ketua MPR ini menilai apa yang terjadi di Indonesia saat ini menyedihkan. Dia menyebut ada polarisasi politik yang berujung menimbulkan kebencian di masyarakat.

"Begitu menyedihkan melihat apa yang terjadi di Indonesia saat ini, polarisasi politik yang menimbulkan permusuhan dan bahkan kebencian, 'cebong vs kampret', 'buzzer vs kadrun', bisa terus tereskalasi menjadi pikiran 'us vs them'. Kami melawan mereka, yang sangat membahayakan keutuhan kita berbangsa dan bernegara," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2