Terdakwa Penyuap Edhy Prabowo Ajukan JC, Janji Buka-bukaan di Sidang

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 18:23 WIB
Suasana sidang penyuap Edhy Prabowo terkait kasus ekspor benur (Zunita/detikcom)
Suasana sidang penyuap Edhy Prabowo terkait kasus ekspor benur. (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) dalam kasus suap ekspor benur. Pengacara Suharjito, Adwin Rahardian, mengatakan kliennya akan buka-bukaan dalam sidang pemeriksaan terdakwa mendatang.

"Iya (mengajukan JC), Rabu (17/3), minggu kemarin," kata Adwin kepada wartawan, Rabu (24/3/2021).

Adwin mengatakan alasan kliennya mengajukan JC karena sudah bersikap kooperatif dalam penyidikan kasus suap ekspor benur. Selain itu, Suharjito, kata Adwin, memberikan uang atas permintaan, bukan kehendak pribadi, agar izin ekspor benur terbit.

"Buat Pak Suharjito tidak ada beban, dia memang mengakui perbuatannya ya. Terlepas perbuatannya itu memenuhi unsur pidana atau tidak, kan itu biar kemudian majelis hakim yang menilai, karena Pak Suharjito sendiri dia memberikan uang karena diminta. Dia hanya dihambat saja dengan dimintai setoran/komitmen oleh stafsus menteri yang ini sudah menjadi fakta persidangan dengan disaksikan oleh dua orang saksi (Agus dan ardi) bahwa mereka langsung dimintai uang sebesar Rp 5 M oleh stafsus (bernama) Safri," jelas Adwin.

Suharjito, kata Adwin, merasa jadi korban dalam kasus ini. Suharjito juga mengakui pemberian uang ke stafsus Edhy Prabowo sebanyak USD 77 ribu dan USD 26 ribu.

"Pak Suharjito justru merasa dia sebagai korban. Dan juga mempertanyakan kenapa hanya dia sendiri, coba kalau lihat sitaan KPK puluhan miliar lebih, dia kan hanya mengakui memberikan dua kali. USD 77 ribu dan USD 26 ribu," katanya.

Adwin juga mengatakan Suharjito akan mengungkap kebenaran dalam kasus ini. Suharjito akan mengungkap dalam sidang pemeriksaan terdakwa pada Rabu (31/3) nanti.

"Jadi apa yang dia (Suharjito) tahu, nanti dia akan ungkap di pemeriksaan terdakwa minggu depan," tegasnya.

Dalam sidang agenda pemeriksaan ahli a de charge hari ini, majelis hakim mengatakan akan memikirkan permohonan JC Suharjito. Majelis hakim akan menyampaikan putusan menerima atau tidaknya Suharjito pada sidang selanjutnya.

"Pada sidang sebelumnya, Saudara mengajukan surat permohonan justice collaborator, sehingga itu masih kami cermati, kami pelajari tentang urgensi atau relevansinya. Pengajuan JC akan segera kami pelajari sebelum penyusunan surat tuntutan, kami akan menentukan sikap atas permohonan Saudara, jadi pasti ada waktu," ujar hakim ketua Albertus Usada.

Dalam sidang ini, Suharjito adalah terdakwa. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo, yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, sebesar Rp 2,1 miliar terkait ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui staf khusus Edhy, Safri dan Andrau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih.

(zap/mae)