Terduga Penyuap Edhy Prabowo di Kasus Ekspor Benur Dinilai Korban

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 16:46 WIB
Tersangka korupsi kasus ekspor benih lobster, Suharjito tiba Gedung KPK, Jakarta, Kamis (11/2/2021).
Suharjito saat mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Direktur PT Dua Putera Perkasa Pratama (PT DPPP), Suharjito mengakui adanya pemberian 'fee' terkait izin ekspor benur kepada stafsus mantan Menteri KKP Edhy Prabowo. Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir pun memberikan penjelasan tentang fee itu.

Awalnya, Suharjito mengungkapkan tentang masalah yang dialaminya saat ini. Suharjito mengungkapkan dia adalah pengusaha budi daya udang dan lobster, tapi saat ini dia duduk di kursi pesakitan karena izin ekspor benur.

Dia mengaku, sebagai pengusaha yang sudah ahli dalam budi daya, kesulitan mendapatkan izin ekspor benur.

"Dalam perjalanan permohonan izin 4 Mei hingga 18 Juni baru ada (izin), kita ini sudah paham budi daya, tapi kita alami kesulitan dalam urusan izin yang notabene saya tanyakan ke anak buah saya (bernama) Agus, 'kenapa masalahnya Gus? Coba tanyakan ke Dirjen Budidaya apa masalahnya, kalau untuk mendapat izin, dan kalau mendapat izin sudah berlomba-lomba, padahal Kementerian KKP yang bidangi budi daya paham tentang hal budi daya'," ujar Suharjito dalam sidang secara virtual di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (24/3/2021).

Suharjito mengaku diminta menyerahkan uang Rp 5 miliar jika dia ingin izin ekspor benur segera terbit. Permintaan itu, kata Agus, disampaikan oleh stafsus Edhy Prabowo.

Dia juga mengaku telah memberikan uang ke stafsus Edhy Prabowo. Suharjito pun bertanya tentang status pemberian uang itu.

"Di kemudian hari, Saudara Agus (staf Suharjito) nanya ke Dirjen Budidaya, (katanya) tanyakan stafsus, di situlah ada letak komitmen yang harus disampaikan ke saya (komitmen) uang, disampaikan Saudara Agus kisaran Rp 5 miliar bisa dicicil. Akhirnya saya membayar komitmen itu 77 ribu dolar AS yang disampaikan Agus. Saya cicil, 77 ribu dolar AS sama dengan Rp 1 miliar," kata Suharjito

"Menurut ahli, apakah saya dianggap pemberi aktif apa pasif, karena saya pada dasarnya pengusaha maunya cepat lakukan budi daya?" tanya Suharjito.

Baca pendapat ahli di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2