ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Dear detik's Advocate, Amankah Bitcoin Jadi Alat Pembayaran di Mata Hukum RI?

Andi Saputra - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 09:37 WIB
VANCOUVER, BC - OCTOBER 29: Gabriel Scheare uses the worlds first bitcoin ATM on October 29, 2013 at Waves Coffee House in Vancouver, British Columbia. Scheare said he just felt like being part of history. The ATM, named Robocoin, allows users to buy or sell the digital currency known as bitcoins. Once only used for black market sales on the internet, bitcoins are starting to be accepted at a growing number of businesses. (Photo by David Ryder/Getty Images)
Ilustrasi Bitcoin (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Dunia terus berubah, salah satunya dalam sistem keuangan dengan memunculkan Bitcoin. Bahkan kini Bitcoin dipakai sebagai alat pembayaran. Tapi amankah Bitcoin di mata hukum sebagai alat pembayaran?

Pertanyaan di atas muncul dari pembaca detik's Advocate yang diterima detikcom. Berikut pertanyaanya:

Dear detik's Advocate

Saya ingin membeli bitcoin karena lagi ramai diperbincangkan. Namun masih menjadi pertanyaan, apakah bitcoin aman apabila jadi alat pembayaran dalam kacamata hukum Indonesia? Mohon penjelasannya

Terimakasih

Putra
Tinggal di Bekasi

Untuk menjawab permasalahan di atas, kami menghubungi advokat Alvon Kurnia Palma,S.H.,M.H. Berikut pendapat hukumnya:

Revolusi 4.0 memaksa semua hal menggunakan teknologi guna memudahkan pekerjaannya. Komputer (PC maupun laptop) dan smartphone menjadi media pemersatu (Convergensi) digitalisasi kegiatan sebagai transaksi elektronik. Ini jelas memudahkan bagi setiap orang dalam menjalankan pekerjaannya.

Meski memudahkan, pasti terdapat sisi gelap yang perlu diketahui sebagai ukuran etis berlangsungnya prinsip itikad baik dalam transaksi elektronik. Keamanan, kehandalan dan bertanggungjawab menjadi ukuran etis yang mesti diketahui oleh pengguna sistem elektronik khususnya di Indonesia.

Transformasi digital mendorong lahirnya aturan-aturan universal, regional dan nasional di bidang perdagangan berbasis elektronik seperti Convention on the use of electronic communication in international contract oleh UNCITRAL, Directive 97/7/EC of the European Parliament and of the Council of 20 May 1997 on the protection of consumers in respect of distance contracts oleh Uni Eropa dan Uniform Computer Information Transaction (UCITA), meski hanya di 2 negara bagian Amerika Serikat yakni Maryland dan Virginia.

Secara nasional, Indonesia terdapat Pasal 15 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2008 yang dirubah dengan UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 3 ayat (1) PP Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem, Pasal 24 ayat (1) PP Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dan Pasal 65 dan 66 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan yang menjamin adanya standar penyelenggara sistem elektronik yang andal, aman serta bertanggung jawab. Kesemua standar pengaturan ini merupakan perwujudan prinsip itikad baik dalam transaksi elektronik guna memastikan keberimbangan (fairness) dari suatu relasi yang tidak seimbang (Alvon:2020).

Digitalisasi perdagangan tidak berhenti di titik itu saja, melainkan tetap berjalan dalam bentuk cara pembayaran transaksi. Dulu kontan (cash) sekarang menjadi tidak (cashless). Pembayaran non tunai lazimnya berlangsung melalui perantara baik perbankan maupun lembaga keuangan non bank seperti kartu kredit, kartu debit, cek, bilyet giro, nota debit dan E-money. Saat ini, lebih maju lagi. Pembayaran non tunai dapat langsung ke masing-masing orang tanpa adanya perantara badan hukum sebagai pihak ketiga. Hanya node sebagai suatu sistem elektronik sebagai perantara.

Adalah mata uang kripto (cryptocurrency) yang memotong perantaraan dalam aktivitas pembayaran menjadi peer-to-peer dengan private key (kunci biner satu arah) unik guna memvalidasinya. Jenis mata uang kripto (cryptocurrency) yang dikenal terdiri dari BitCoin, BitCoinCash, FeatherCoin, DogeCoin dan LiteCoin. Dari beberapa jenis tersebut, BitCoin merupakan jenis yang memimpin dan paling banyak dipakai (market leader).

BitCoin sebagai cryptocurrency yang tersandi secara ketat dan kuat sangat aman dan handal dengan menggunakan blockchain sebagai jalan (infrastruktur). Blockchain sulit ditembus, meski secara teknis masih ada peluang ditembus (hack), namun pada praktiknya nyaris mustahil. Alasan blockchain aman dan sulit ditembus karena sebagai serangkaian catatan data yang dikelola oleh sekelompok komputer (nodes) yang tidak dimiliki oleh satu entitas.

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya:

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT