Polisi Masih Selidiki Penyebab Irsan Tewas Usai Diksar Mapala IAIN Bone

Hermawan Mappiwali - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 13:41 WIB
Ilustrasi jenazah
Ilustrasi (Foto: dok. Thinkstock)
Bone -

Polisi masih menyelidiki penyebab tewasnya Irsan (19), peserta pendidikan dasar (diksar) mahasiswa pencinta alam (mapala) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polisi belum melihat ada-tidaknya hubungan kekerasan saat diksar sebagai penyebab kematian korban.

"Belum sampai ke situ (kekerasan sebagai penyebab kematian korban). Karena kan sempat kembali ke rumahnya, berarti penyebab matinya bukan di TKP (tempat kejadian perkara)," kata Kasat Reskrim Polres Bone AKP Ardy Yusuf kepada detikcom, Kamis (18/3/2021).

Ardy menyebut 16 panitia yang sebelumnya ditetapkan menjadi tersangka hanya terbukti melakukan kekerasan terhadap korban selaku peserta kegiatan. Namun, untuk melihat kekerasan tersebut sebagai penyebab kematian, diperlukan pendalaman lebih lanjut.

"Dia kan ada rentang waktu pulang ke rumahnya selama tiga hari. Artinya, penyebab matinya kan tidak bisa langsung kita simpulkan dari situ (kekerasan saat diksar)," jelas Ardy.

Menurut Ardy, belum ada keterangan medis yang mendukung dugaan korban meninggal akibat kekerasan saat kegiatan diksar. Karena itu, polisi sejauh ini baru menjerat tersangka dengan Pasal 170 KUHP.

"Makanya paling gampang kita dapat adalah kekerasan secara bersama-sama (170 KUHP)," jelas Ardy.

Kendati belum melihat hubungan yang jelas bahwa kekerasan menjadi sebab kematian korban, Ardy menyebut pihaknya akan tetap menyelidikinya. Hal tersebut disebut sudah menjadi bagian pengembangan penyidikan.

"Nanti kita lihat perkembangannya. Kalau ada perkembangan, pasalnya kita terapkan. Yang jelas saat ini adalah Pasal 170, kekerasan secara bersama-samanya," katanya.

Sebelumnya, korban mengikuti diksar mapala Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone selama tujuh hari, sejak Jumat, 5 Maret 2021, hingga 12 Maret 2021. Kemudian pada Sabtu (13/3), korban tiba-tiba mengeluhkan sejumlah rasa sakit di tubuhnya.

Korban sempat dirawat selama dua hari di rumahnya. Namun, pada Senin (15/3), kondisi korban tak kunjung membaik hingga dibawa ke rumah sakit. Hasil visum menunjukkan korban menderita sejumlah luka.

"Hasil visum ada luka lebam di perut, kaki, dan di mukanya juga. Dan hampir semua peserta ada luka lebam seperti korban," pungkas Ardy.

(hmw/nvl)