Warga Ciledug yang Akses Jalannya Ditembok Sempat Diancam, Polisi Turun Tangan

Rahmat Fathan - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 17:13 WIB
Jakarta -

Kapolsek Ciledug Kompol Wisnu Wardana mengatakan Hadiyanti (60), penghuni rumah di Ciledug, Tangerang, yang akses jalannya ditembok dan sempat mengalami pengancaman dengan senjata tajam oleh pelaku yang disebut bernama Rully, telah membuat laporan ke polisi. Wisnu berujar kini kasus tersebut ditangani Polres Tangerang Kota.

"Ada juga kasus pengancaman, sudah ditangani juga di Polres Metro Tangerang Kota. Sementara sedang proses," ujar Wisnu saat ditemui detikcom di Ciledug, Tangerang, Sabtu (13/3/2021).

"Infonya secara verbal, nanti akan didalami oleh penyidiknya," imbuh dia.

Wisnu menjelaskan tiga pilar di Kecamatan Ciledug telah melakukan penjagaan di lokasi sengketa lahan. Dia juga mengimbau Hadiyanti beserta anggota keluarganya tinggal di tempat lain untuk sementara waktu.

"Saat ini kondusif, kami imbau juga ke Saudara Hadiyanti, mungkin sementara berproses masalah hukumnya, kami sarankan agar sebaiknya dalam beberapa waktu ke depan tinggal di tempat tinggalnya yang lain," ucap Wisnu.

Menurut dia, kasus sengketa lahan tersebut telah dibahas di tingkat kelurahan sampai ke Pemkot Tangerang. Kata Wisnu, saat ini pemerintah setempat sedang mencari solusinya.

"Masalah ini juga suda dibahas di tingkat kelurahan, kecamatan, maupun Pemerintah Kota Tangerang. Sementara kita carikan solusinya," tutur dia.

Sebelumnya, anak Hadiyanti, Acep Waini Munir, mengatakan ancaman dari pihak yang menembok akses jalan rumah orang tuanya itu terjadi pada Minggu (21/2). Saat itu kondisi rumah ibunya tengah kebanjiran.

"Saat itu kondisi banjir deras, air luapan kali nggak nampung, jadi luber sedada orang dewasa. Nah klaimnya dia (Rully), 'Ini tembok siapa yang rubuhin?'. Sedangkan ibu saya 60 tahun, mana bisa ngerubuhin tembok," ujar Acep kepada detikcom di lokasi.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.


Menurut Acep, Rully datang ke rumah ibunya seraya menuding mereka merobohkan tembok beton. Bahkan Rully juga mengancam menggunakan senjata tajam.

"Dia bawa golok. Datang-datang langsung menodongkan golok. Ibu saya jawab, 'Saya tidak tahu, Pak Haji'," cerita Acep.

"Lalu (Rully) bilang, 'Nggak mungkin, nggak mungkin'. Ibu saya saya jawab, 'Pak Haji, waktu banjir Pak Haji, air tuh sedada'. Ya masa orang tua bisa ngerubuhin tembok, 10 tembok loh. Bukan 1 yang roboh," sambung Acep.

Acep menyebut Rully tak mengancam agar keluarganya pindah rumah. Tetapi yang dilakukan Rully merupakan provokasi agar ibunya tak merasa nyaman tinggal di sana.

"Waktu itu ada negosiasi dengan orang tua saya, almarhum Pak Haji Munir. Cuma, orang tua saya nggak mau, nggak jual (rumah). Sedangkan ini tanah 1.000 meter, (mau) dibayar Rp 500 juta," kata dia.

detikcom telah mendatangi rumah pihak yang membangun tembok 2 meter hingga menutup akses jalan warga itu. Namun, pihak tersebut tidak bersedia memberikan keterangan.

(aud/aud)