Pengemudi Mercy Pelaku Tabrak Lari Pesepeda di HI Diimbau Serahkan Diri

Rahmat Fathan - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 20:47 WIB
Jakarta -

Polisi telah mengantongi identitas pengemudi mobil Mercy yang melarikan diri usai menabrak pesepeda di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Pengemudi Mercy tersebut diimbau untuk menyerahkan diri.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pencarian terhadap pengemudi Mercy bernopol B-1728-SAQ tersebut. Namun, di sisi lain polisi juga menunggu itikad baik pengemudi Mercy untuk menyerahkan diri.

"Karena kami sudah mengantongi identitas, petugas-petugas kami juga sudah kami kerahkan untuk melakukan pencarian. Jadi kami minta kepada yang bersangkutan silakan datang ke kantor untuk kami lakukan pemeriksaan," jelas AKBP Fahri kepada wartawan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/3/2021).

Fahri mengatakan, saat ini pihaknya masih mengumpulkan keterangan saksi-saksi di lokasi kejadian. Sementara polisi telah mendapatkan rekaman CCTV terkait kejadian tersebut.

"Kita juga sudah menemukan CCTV dan juga kita sudah mengantongi identitas dari yang diduga sebagai tersangka," katanya.

Fahri mengatakan, berdasarkan rekaman CCTV, pelaku kabur setelah menabrak korban. Korban bahkan dua kali ditabrak pengemudi mobil Mercy tersebut.

"Setelah kejadian dia tidak memberikan pertolongan, dia juga tidak menghentikan kendaraannya. Bahkan ada informasi dia sempat menabrak kedua kalinya (korban yang sama) dan selanjutnya dia juga melarikan diri dan tidak mendatangi kantor kepolisian," jelas Fahri.

Lebih lanjut, Fahri mengatakan pelaku tabrak lari bisa dipidana. Pelaku tabrak lari dapat dijerat Pasal 312 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Adapun, Pasal 312 UU Nomor 22 Tahun 2009 berbunyi:

"Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kecelakaan lalu lintas dan dengan sengaja tidak menghentikan kendaraannya, tidak memberikan pertolongan, atau tidak melaporkan kecelakaan lalu lintas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia terdekat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 231 ayat (1) huruf a, huruf b, dan huruf c tanpa alasan yang patut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 75 juta."

Pasal 231 ayat (1) berbunyi:

"Setiap orang yang mendengar, melihat, dan/atau mengetahui terjadinya kecelakaan lalu lintas wajib:
a. menghentikan kendaraan yang dikemudikannya.
b. memberikan pertolongan kepada korban.
c. melaporkan kecelakaan kepada Kepolisian Negara
Republik Indonesia terdekat, dan
d. memberikan keterangan yang terkait dengan kejadian
kecelakaan."

(mea/mea)