Basuki Rachmat, Pahlawan Nasional Pengantar Surat Perintah Sebelas Maret

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 11 Mar 2021 17:31 WIB
Jenderal TNI Anumerta Basuki Rachmat (Menkominfo via Wikimedia Commons)
Jenderal TNI Anumerta Basuki Rachmat (Menkominfo via Wikimedia Commons)
Jakarta -

Bagi orang Ibu Kota, Basuki Rachmat dikenal sebagai nama jalan di Jakarta Timur. Basuki Rachmat adalah sosok elite militer terkemuka dalam cerita Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Namanya kadang ditulis sebagai Basuki Rakhmat, Basoeki Rachmat, atau Basuki Rahmat, paling sering ditulis Basuki Rachmat. Dia adalah sosok yang ke sana-kemari memproses Supersemar. Dia bersama dua perwira tinggi lainnya menjadi perantara Soeharto ke Sukarno.

Ditulis RM Subantardjo dalam buku 'Jenderal Anumerta Basuki Rachmat', Basuki lahir di Tuban pada 14 November 1921. Atas jasa dan perjuangannya, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 1/TK/1969 tanggal 9 Januari 1969.

"Pada masa Sukarno, Basuki Rachmat berperan dalam lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Pada masa Soeharto dia menduduki jabatan Mendagri," demikian keterangan dalam data Pahlawan Nasional, situs web Kementerian Sosial.

Selain itu, banyak jasa dia sejak zaman Jepang. Dia membentuk batalion Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Ngawi setelah TKR terbentuk pada 5 Oktober 1945. Dia juga menjadi Panglima Komando Daerah Militer VIII (Kodam VIII/Brawijaya) serta Deputi Khusus Panglima Angkatan Darat.

Kembali ke sejarah Supersemar, Basuki ada dalam pusat cerita 11 Maret 1966. Kala itu dia yang menjabat Menteri Dalam Negeri di Kabinet Dwikora II periode pemerintahan Presiden Sukarno.

11 Maret 1966, rapat berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta. Rapat dipimpin oleh Sukarno. Basuki hadir. Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat sekaligus Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tidak ikut rapat. Alasannya sakit tenggorokan.

Saat itu, tiba-tiba di sekitar Istana Kepresidenan Jakarta berseliweran pasukan tanpa identitas yang mengepung. Belakangan diketahui, ini adalah pasukan dari Mayjen TNI Kemal Idris, Kepala Staf Kostrad. Dalam situasi tidak aman ini, Sukarno segera meninggalkan Istana Kepresidenan Jakarta untuk pulang ke Bogor.

"Peristiwa sidang kabinet itu. Sidang kabinet, tanggal 11, kemudian ada berita Istana dikepung. Saya kebetulan nggak hadir waktu itu, sedang kumat sakit tenggorokan," kata Soeharto pada 6 Februari 1994, dilansir kanal YouTube HM Soeharto.

Selanjutnya, Istana Kepresidenan Jakarta dikepung, Sukarno langsung pulang ke Bogor, Basuki Rachmat menemui Soeharto:

Simak juga 'Astana Giribangun, Makam Presiden Ke-2 Republik Indonesia, Karanganyar':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3