ADVERTISEMENT

Sidang Suap Ekspor Benur

Cerita Dirut Perusahaan Ekspor Benur: Saya Cuma Diminta Duduk Manis

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 14:41 WIB
Palu Hakim. Ari Saputra. Ilustrasi
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

PT Aero Citra Kargo (ACK) disebut sebagai perusahaan kargo yang diduga diatur untuk pengangkutan ekspor benih lobster (benur) oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo. Ternyata pemimpin perusahaan itu malah mengaku tidak mendapatkan kewenangan apa pun di perusahaan itu. Lho?

Seorang bernama Amri yang mengaku menjabat Direktur Utama PT ACK hadir sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap dalam perizinan ekspor benur dengan terdakwa Suharjito. Dia didakwa sebagai Direktur PT DPP yang memberikan suap kepada Edhy Prabowo untuk mendapatkan izin ekspor benur.

Kembali pada kesaksian Amri. Dia mengatakan awalnya diminta oleh Amiril Mukminin, yang merupakan sekretaris pribadi Edhy Prabowo, datang ke rumah Edhy Prabowo.

"Saya dipanggil ke rumah Pak Menteri di Widya Chandra, nomor rumahnya saya lupa dan di sana saya ketemu Pak Amiril," kata Amri saat bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (10/3/2021).

Kala itu Amri mengaku hanya bertemu dengan Amiril, yang memintanya menjabat Dirut di PT ACK. Amri mengaku tidak tahu banyak soal perusahaan itu.

"Saya diajak bicara Pak Amiril, 'Pak, ini diarahkan menjadi Dirut PT ACK'. Bergerak di bidang apa? Kargo. Selanjutnya saya disuruh paraf akta perusahaan. Setelah itu saya pulang," kata Amri.

Amri mengaku sebelumnya tidak pernah mengikuti rapat umum pemegang saham PT ACK. Saat itu, dia juga mengetahui ada nama Nursan selaku komisaris dan Lutpi Ginanjar sebagai Direktur Umun PT ACK.

Amri lalu diminta bertemu pengurus lain di PT ACK. Saat itulah ia dikenalkan dengan Direktur PT PLI bernama Deden Deni. Amri pun mengatakan kepada Deden bahwa ia tidak punya pengalaman di bidang kargo.

"Saya tidak punya pengalaman di bidang kargo ekspor, terus Pak Deden bilang urusan operasional urusan saya, bapak duduk manis saja sambil belajar," ujar Amri.

Amri mengaku heran mengapa tidak diberi kewenangan sebagai dirut. Dia juga sempat memprotes kepada Nursan lewat stafnya.

"Kok nggak dikasih kewenangan saya tanya ke staf Pak Nursan, tolong sampaikan ke Pak Nursan, saya nggak punya kewenangan apa-apa selaku dirut, dia bilang sabar saja dulu, kita lihat," ucapnya.

Jaksa KPK sempat menanyakan apa tugas Amri selaku Dirut PT ACK. Amri bahkan mengaku tidak masuk kerja sejak Agustus 2020 karena tidak memiliki kewenangan.

"Saya awalnya koordinasikan antara kegiatan dan teman-teman staf karyawan. Saya terus datang ke kantor, tapi karena tidak diberi kewenangan dalam bentuk apa pun pengelolaan keuangan dan yang lain tidak dilibatkan, saya Agustus tidak masuk lagi," kata Amri.

Jaksa KPK lantas mencecar Amri terkait PT ACK yang bergerak di bidang kargo. Amri mengaku tahu ada kegiatan kargo berupa pengiriman benih bening lobster (BBL). Namun Amri mengaku tidak pernah terlibat dalam kegiatan terkait BBL.

"Ada kegiatan kargo saat menjabat?" cecar jaksa KPK.

"Ada. Pengiriman BBL," kata Amri.

"Saudara pernah terlibat?" tanya jaksa.

"Tidak," ucap Amri.

Dalam sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Direktur PT DPPP Suharjito. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo, yang saat itu menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP). Suharjito disebut jaksa memberi suap ke Edhy sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

Jaksa menyebut uang suap diberikan ke Edhy melalui staf khusus menteri KKP Safri dan Andreau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris Pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP.

Penjelasan Eks Sespri Edhy Prabowo

Amiril yang juga duduk di kursi saksi memberikan penjelasan. Dia menyebut Nursan sebagai kawan dekat Edhy Prabowo mengaku padanya bila sudah berbicara ke Edhy Prabowo untuk dicarikan pekerjaan.

"Pada April, Pak Nursan cerita sudah bilang ke Pak Menteri saya minta pekerjaan. Saya disuruh urus. Saya mikir saya taruh ke mana, kalau di KKP nggak mungkin," kata Amiril dalam sidang yang sama.

Di sisi lain Amiril kerap berkomunikasi dengan Direktur PT PLI bernama Deden Deni. Dari situlah Amiril meminta bantuan Deden memberikan pekerjaan ke Nursan.

"Saya berinisiatif mengajukan kerja sama dengan Deden, pak saya punya abang, seumpama bergabung dengan bisnis bapak gimana, Deden (bilang) ya udah siapa namanya, ya saya kenalkan Nursan dengan Deden," ucapnya.

Namun, Amiril mengatakan kalau Nursan meminta temannya juga ikut bergabung. Sosok yang diajak Nursan adalah Amri yang kemudian menjabat Dirut PT ACK.

"Pas berjalan Nursan bilang, saya kira-kira gimana di sana, kalau sendiri saya nggak enak rasanya, gimana kalau saya ajak teman satu lagi. Dia menunjuk Bang Amri. Saya serahkan juga berkasnya ke Pak Deden," ucap Amiril.

Jaksa KPK sempat menanyakan apakah Amiril mengonfirmasi ulang kebenaran cerita Nursan soal sudah bilang Edhy minta dicarikan pekerjaan. Amiril mengaku tidak menanyakan ulang karena jarang berkomunikasi dengan Edhy.

"Saya kalau bicara kan jarang setelah jabat menteri, komunikasi jarang. Sespri kan banyak, saya bagian umum," ucap Amiril.

"Saya bilang ke Bang Nursan apakah sudah beneran dari bapak, ya udah saya inisiatif saja carikan," tambahnya.

(run/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT