ADVERTISEMENT

Sidang Suap Ekspor Benur

Saksi Ini Ngaku 'Dicatut' Jadi Komisaris Perusahaan Terkait Ekspor Benur

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 13:13 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Seorang saksi bernama Achmad Bachtiar mengaku pernah dimintai identitas untuk menjabat sebagai komisaris perusahaan yang terkait dengan perkara dugaan suap dalam perizinan ekspor benih lobster atau benur. Seperti apa ceritanya?

Awalnya Bachtiar mengaku pernah diminta adiknya memberikan sejumlah data pribadi. Adik Bachtiar bernama Chusni Mubarak yang pernah bekerja sebagai tenaga ahli di DPR.

"Sekitar Agustus, adik saya, Chusni, mengonfirmasi ada kemungkinan mengisi komisaris jasa angkut. Saya diminta data foto KTP, NPWP, dan spesimen tanda tangan," ujar Bachtiar saat bersaksi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (10/3/2021). Duduk sebagai terdakwa dalam sidang itu adalah Suharjito, yang didakwa memberikan suap kepada mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

Bachtiar mengatakan spesimen tanda tangan itu digunakan untuk membuka rekening dan menerima gaji sebagai komisaris. Namun, setelah dimintai data-data itu, dia tidak pernah menanyakan kelanjutannya kepada Chusni.

"Buka rekening untuk gaji sebagai komisaris. Berapa gajinya saya nggak tanya, kan biasanya ada kerjaan bersama yang atur Chusni," ucap Bachtiar.

Chusni, yang duduk di kursi saksi, giliran memberikan penjelasan. Saat masih aktif sebagai tenaga ahli di DPR, Chusni mengaku mendapatkan tawaran soal posisi komisaris dari Amiril Mukminin, yang tak lain adalah sekretaris pribadi Edhy Prabowo.

"Pada waktu itu ada tawaran posisi komisaris yang diisi Pak Nursan, kemudian meninggal. Yang menawarkan Pak Amiril," ujar Chusni.

"Saya masih tenaga ahli di DPR. Agar tidak ada kepentingan politik, akhirnya saya ajukan nama, saya masukkan nama Achmad Bachtiar untuk pertanggungjawaban. Saya minta data-data, KTP, NPWP, spesimen tanda tangan," tambahnya.

Chusni mengaku awalnya hanya tahu posisi komisaris yang dimaksud berada di perusahaan kargo. Belakangan baru Chusni tahu nama perusahaannya adalah PT Aero Citra Kargo (PT ACK) setelah proses penyidikan di KPK. Diketahui PT ACK merupakan perusahaan jasa angkut benur yang terlibat dalam pusaran kasus ini.

Selain itu, jaksa KPK menanyakan perihal buku rekening atas nama Bachtiar selaku Komisaris PT ACK berada di tangan Amiril. Menurut Chusni, hal itu untuk mempermudah urusan administrasi.

"Saya di Jawa Timur, agar administrasi lebih mudah dipegang beliau," ujarnya.

Dalam perkara ini, Suharjito didakwa memberikan suap ke Edhy Prabowo sebesar Rp 2,1 miliar melalui staf khusus Menteri KKP Safri dan Andreau Misanta Pribadi, lalu Sekretaris Pribadi Edhy bernama Amiril Mukminin, dan Ainul Faqih selaku staf pribadi istri Edhy Prabowo Iis Rosita Dewi, dan Komisaris PT Perishable Logistics Indonesia (PT PLI) sekaligus Pendiri PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Siswadhi Pranoto Loe. Suap diberikan agar Edhy mempercepat perizinan budi daya benih lobster ke PT DPP.

Lihat Video: Lagi, KKP Gagalkan Penyelundupan 29.250 Benih Lobster

[Gambas:Video 20detik]



(run/dhn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT