Dugaan Pelecehan Oknum Lurah di Bekasi, Polisi Diminta Gerak Cepat

Isal Mawardi - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 14:38 WIB
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands on her head in a gesture of despair. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.
Foto: iStock
Bekasi -

Oknum lurah di Bekasi, Jawa Barat, berinisial RJ, diduga melakukan pelecehan seksual kepada pedagang warung kopi. Komnas Perempuan angkat bicara mengenai hal ini.

"Kami menyayangkan terjadinya dugaan tindak pidana pencabulan yang dilakukan lurah, yang merupakan aparatur negara, yang seharusnya memberikan perlindungan terhadap warganya," ujar komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi kepada detikcom, Jumat (5/3/2021).

Siti meminta Polres Metro Bekasi Kota cepat dalam melakukan penyelidikan. "Mengingat, jika terjadi hambatan keadilan korban, akan memperburuk situasi psikologis korban dan tidak aman," lanjutnya.

Komnas Perempuan, kata Siti, merekomendasikan kepada penyidik untuk melihat permasalahan pelecehan ini secara komprehensif. Apalagi posisi korban dinilai rentan sebagai perempuan serta bergantung pada dagangannya.

"Sementara lurah sebagai kepala wilayah memiliki kuasa, yang seharusnya kekuasaannya digunakan untuk melindungi dan menjamin warganya, bukan memanfaatkannya," imbuh Siti.

Siti menyebut Komnas Perempuan tidak memiliki mandat untuk melakukan pendampingan secara langsung. Namun Komnas Perempuan dapat merujuk korban ke penyedia layanan setempat.

"Komnas Perempuan akan memantau apakah hak keadilan korban dipenuhi atau tidak," jelasnya.

Untuk diketahui, korban melaporkan dugaan pelecehan seksual itu terjadi di sebuah kantor kelurahan di Bekasi Selatan, Kota Bekasi, pada 8 Desember 2020. Korban saat itu tengah mengantarkan pesanan teh manis ke ruangan staf kelurahan.

Dalam laporannya, korban menyebutkan dirinya dan pelaku berpapasan di kantor kelurahan tersebut. Kemudian pelaku menghampiri korban dan pelecehan seksual pun terjadi. Pada saat yang sama, pelaku memesan teh manis ke korban.

Korban pun kembali ke dagangannya dan membuatkan teh manis pesanan pelaku. Setelah pesanan jadi, korban mengantarkan teh manis ke ruangan pelaku.

Saat itu, terdapat beberapa staf kelurahan di ruangan kerja pelaku. Namun, begitu melihat korban masuk, staf-staf tersebut langsung pergi meninggalkan ruangan. Sementara itu, di dalam ruangan hanya ada pelaku dan korban.

Korban pun menaruh teh manis di meja pelaku dan pamit untuk ke luar ruangan. Tetapi korban tidak bisa keluar karena pintu terkunci. Aksi pelecehan seksual pun kembali terjadi.

Polisi sudah melakukan olah TKP. Polisi telah memeriksa ruangan oknum lurah RJ yang diduga menjadi tempat pelecehan seksual tersebut.

"Olah TKP di situ bahwa kacanya (ruangan Lurah) semua itu bisa dikatakan terang, terbuka, dan pintunya juga kita cek pintunya tidak terkunci. Bukan dikunci menggunakan kunci, tidak bisa emang (terkunci)," kata Wakapolres Metro Bekasi Kota AKBP Alfian Nurizal saat dihubungi detikcom, Jumat (5/3/2021).

Dari olah TKP tersebut, keenam staf lurah yang telah diperiksa mengaku tidak mendengar ada teriakan korban ketika itu. Polisi juga belum menemukan indikasi bahwa korban terkunci di dalam ruangan.

"Jadi tidak ada yang dikatakan maksudnya korban bilang nggak bisa keluar pintu, teriak-teriak. Dari keenam orang itu, kita tanya ada nggak denger teriakan? Dijawab tidak ada. Nggak mendengar suara teriakan dari korban. Terus, setelah kita cek bersama-sama, tidak ada yang terkunci," ungkap Alfian.

Namun Alfian memastikan olah TKP tersebut tidak menjadi akhir dari penyelidikan kasus tersebut. Dia menyebut oknum lurah inisial RJ selaku terlapor akan dimintai keterangan pekan depan.

"Yang jelas pekan depan ya, pekan depan. Sudah kita agendakan pasti. Tujuan akhir kita untuk mintai keterangan, apalagi lurahnya, wajib itu (diperiksa)," tutur Alfian.

(isa/mei)