Setahun Corona di RI

Jurus Atasi Corona Selama Setahun: PSBB hingga PPKM

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 08:17 WIB
Pemprov DKI Jakarta telah memberlakukan pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak kemarin. Begini suasana kawasan Thamrin di hari kedua PSBB ketat.
Suasana Thamrin di Hari Kedua PSBB Ketat (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Selama setahun, pemerintah telah melakukan beragam upaya untuk membendung penyebaran kasus Corona (COVID-19). Dari memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB. Peraturan ini diberlakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau COVID-19.

Dua peraturan pendukung kebijakan PSBB sudah diterbitkan, yakni tentang PP tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keputusan Presiden atau Keppres Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat.

Namun, dalam perjalanannya, PSBB kemudian diganti dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Berikut ini perubahan istilah pembatasan tersebut:

PSBB

Pada 17 Maret 2020, pemerintah lewat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang masa darurat bencana wabah penyakit akibat virus Corona di Indonesia.

Desakan untuk memberlakukan lockdown guna mencegah penularan Corona pun muncul. Namun, pemerintah lebih memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk daerah dengan kriteria tertentu.

DKI Jakarta menjadi daerah pertama yang mendapat restu PSBB pada 7 April 2020 ketika kasus Corona telah menembus 5.000 kasus. Selanjutnya, kebijakan ini diikuti oleh daerah-daerah lain.

PSBB Transisi/Normal Baru

Kemudian, memasuki Juni 2020, PSBB di sejumlah daerah mulai diubah menjadi PSBB transisi.

Pemerintah memperkenalkan new normal sebagai kebiasaan baru yang mulai harus diterapkan. New normal itu ialah kebiasaan mematuhi protokol kesehatan, seperti rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Saat kantor mulai buka antara 8 dan 9 Juni, ruas-ruas jalan di DKI Jakarta kembali diwarnai kemacetan. PSBB transisi pun terus diperpanjang.

Namun belakangan, juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto, mengungkapkan ada diksi yang salah di kata 'new normal'. Dia menilai diksi yang benar adalah adaptasi kebiasaan baru.

"Diksi 'new normal' itu sebenarnya di awal diksi itu segera kita ubah, waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah, 'new normal' itu diksi yang salah, kemudian kita ubah 'adaptasi kebiasaan baru', tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana, gaung tentang new normal itu ke mana-mana," ujar Yuri dalam acara launching buku 'Menghadang Corona' di kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2020).

Simak video 'Kilas Balik Setahun Covid-19 di Tanah Air':

[Gambas:Video 20detik]