Soal Banjir Kiriman, Bima Arya Ajak Anies Susuri Sungai Ciliwung

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 18:49 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya
Foto: Dok. Pemkot Bogor
Jakarta -

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan urusan banjir di ibu kota merupakan urusan bersama sehingga tak perlu saling menyalahkan. Menurutnya, terjadinya banjir harus dilihat dari berbagai aspek, baik hulu, tengah, hingga hilir dan perlu melibatkan sektor-sektor yang lebih terpadu.

"Setiap ada banjir besar pasti selalu ada isu kiriman. Ini harus diluruskan. Ini bukan soal saling menyalahkan tapi agar semua paham secara proporsional. Hulu ke hilir ini panjang, mulai dari Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Depok dan DKI Jakarta," ungkap Bima dalam keterangannya, Sabtu (27/2/2021).

Bima menilai banjir di Jakarta dapat disebabkan oleh berbagai hal mulai dari curah hujan hingga pengelolaan sungai di Jakarta.

"Perlu diingat bahwa Jakarta itu dialiri oleh 13 sungai, Ciliwung salah satunya. Ketika Jakarta kemarin banjirnya cukup besar, di Bendung Katulampa sebagai penunjuk ketinggian air itu baru siaga 4 hingga siaga 3. Artinya volume dari hulunya tidak besar. Jadi, menurut saya ada dua kemungkinan, curah hujannya lebih tinggi di Jakarta atau pengelolanya di Jakarta yang belum maksimal," imbuhnya.

Berdasarkan hasil Ekspedisi Ciliwung pada 10-11 November 2020 lalu, Bima dan Komunitas Peduli CIliwung mendapati berbagai faktor yang dapat menjadi penyebab banjir di Jakarta.

Adapun hal tersebut meliputi titik timbunan sampah, pembuangan limbah, bangunan liar dan lain sebagainya. Bahkan, Bima menyebut saat pengarungan dengan jarak 70 kilometer dengan perahu karet, terlihat adanya penyempitan sungai saat memasuki wilayah Jakarta. Di samping itu, warna air juga tampak lebih keruh dan berbau.

Terkait hal ini, Bima mengatakan pihaknya dan tim Ekspedisi Ciliwung sudah menyampaikan kepada pemerintah terkait, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PUPR, bahkan hingga Presiden.

"Kami mengarungi Ciliwung dari Bogor, transit di Depok kemudian lanjut hingga Pintu Air Manggarai, Jakarta. Kita menemukan 184 titik timbunan sampah. Yang dari Bogor sampai Depok hanya 34 titik. Sisanya yang 150 itu dari Depok sampai Jakarta. Selain timbunan sampah, juga ada bangunan liar, limbah dan lain sebagainya," jelas Bima.

Soal persepsi banjir di Jakarta merupakan kiriman dari hulu, Bima pun mengajak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria beserta kementerian terkait untuk bersama-sama kembali melakukan Ekspedisi Ciliwung.

"Persepsi banjir kiriman harus diluruskan, apa betul kiriman masih terjadi dan seberapa menyumbang (atas banjir yang terjadi di Jakarta). Makanya kemarin kita menyusuri Ciliwung dari Bogor, Depok sampai Jakarta. Menurut saya bagus ya, sesekali pak Gubernur, Pak Wagub dan kementerian terkait lainnya ikut bersama-sama kembali mengarungi Ciliwung," katanya.

Bima mengatakan dirinya siap untuk menyusuri kembali Sungai Ciliwung. Dengan begitu, pemerintah setempat juga dapat melihat kondisi sungai.

"Saya ingin mengulangi lagi kalau mereka siap ya, kita menyusuri sungai Ciliwung lagi. Tidak usah dari Bogor lah tidak apa-apa. Dari Depok saja sampai pintu air Manggarai. Kita sama-sama menyusuri sehingga bisa terbayanglah kondisinya seperti apa di lapangan," tandasnya.

Lebih lanjut Bima menyampaikan pihaknya juga telah melakukan sejumlah langkah terkait Sungai Ciliwung. Salah satunya yaitu pembentukan Satgas Ciliwung yang melibatkan komunitas dan warga di 13 kelurahan yang dilintasi Ciliwung.

"Hingga 2020 lalu, tidak ditemukan lagi titik timbunan sampah di 13 kelurahan yang dilalui Sungai Ciliwung. Perlu diketahui juga, kami sudah membuat 314 titik sumur resapan untuk mengurangi debit air yang mengalir melalui Sungai Ciliwung dan Cisadane. Pemkot Bogor belum lama ini juga menerima penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai salah satu kota yang berhasil mengurangi sampah sebanyak 16 persen dari 650 ton sampah per hari," ujarnya.

Untuk mengantisipasi banjir, Bima mengatakan perlu ada kerja sama antar lintas sektor dan pemerintah terkait. Hal ini mengingat penanggulangan banjir memerlukan proses yang lama untuk diatasi.

"Dari Kementerian LH harus fokus pada pengelolaan limbahnya. Dari BBWS Ciliwung-Cisadane dan PUPR fokus mengatur di sempadan sungainya karena pemerintah daerah kadang-kadang sulit sekali untuk menanggulangi jika terjadi bencana longsor dan lain-lain karena harus mendapatkan rekomendasi teknis dari kementerian. Ini kan prosesnya lama. Dalam konteks kebencanaan BNPB harus masuk di situ juga," pungkasnya.



Simak Video "Aksi Bima Arya Membawa Bendera Merah Putih di HUT ke-75 RI"
[Gambas:Video 20detik]
(akd/ega)