Vonis Eks Dirkeu Jiwasraya Disunat Jadi 20 Tahun, Ini Respons Pengacara

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 17:29 WIB
Eks Dirkeu Jiwasraya periode 2008-2018, Hari Prasetyo memberi keterangan pers terkait kasus di perusahaan pelat merah yang pernah ia pimpin.
Eks Dirkeu Jiwasraya Hary Prasetyo (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta memangkas vonis mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Kuasa hukum Hary Prasetyo, Unoto Dwi Yulianto, menyebut belum menerima salinan putusan tersebut.

"Pertama, kami belum mendapatkan petikan maupun salinan putusan banding secara resmi dalam perkara Hary Prasetyo dan bahkan baru mengetahui dari berita di media online, sehingga kami belum menentukan langkah hukum ke depannya," kata Unoto saat dihubungi detikcom, Kamis (25/2/2021).

Unoto mengatakan pihaknya saat ini juga belum bisa menentukan langkah hukum selanjutnya. Apakah akan menerima putusan tersebut atau mengajukan upaya hukum kasasi.

"Belum menerima salinan putusan tersebut. Setelah kami mendapatkan salinan putusan banding yang berisi pertimbangan hukum, kami akan berkonsultasi dengan terdakwa Hary Prasetyo untuk melakukan upaya hukum yang akan ditempuh selanjutnya," imbuhnya.

Kendati demikian, Unoto menyambut baik jika PT Jakarta memangkas hukuman kliennya. Namun, menurutnya, seharusnya Hary dibebaskan demi hukum dalam kasus itu.

"Kedua, jika pun valid kabar telah diputus perkara banding tersebut, kami mengapresiasi atas turunnya hukuman dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara, meskipun seharusnya terdakwa bebas demi hukum mengingat kerugian negara berdasarkan audit BPK RI masih belum terealisasi alias potential loss/unrealized loss, karena portofolio Jiwasraya dalam perkara a quo belum/tidak dihitung oleh BPK. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan putusan Mahkamah Konstitusi, kerugian negara harus nyata dan pasti," tuturnya.

Selain itu, kata Unoto, hakim seharusnya tidak menyita harta milik Hary. Sebab, harta itu diperoleh dari hasil warisan dan jerih payah bekerja.

"Ketiga, putusan banding tersebut, berdasarkan berita di media online, masih belum mengembalikan harta-harta yang disita kepada terdakwa, padahal harta benda tersebut khususnya perhiasan, diperoleh dari warisan orang tua, hasil jerih payah puluhan tahun bekerja dari gaji, bonus, dan lain-lain," kata Unoto.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2